Category: Kominfo Kutim

  • Krisis Dokter Spesialis, Pelayanan RS Pratama Muara Bengkal Belum Optimal

    Krisis Dokter Spesialis, Pelayanan RS Pratama Muara Bengkal Belum Optimal

    Kutai Timur – Ketersediaan fasilitas kesehatan di Kecamatan Muara Bengkal, khususnya Rumah Sakit (RS) Pratama, dinilai belum beroperasi secara maksimal. Meski secara fisik bangunan rumah sakit dan infrastruktur pendukung seperti Puskesmas di ibu kota kecamatan sudah tersedia, pelayanan kesehatan lanjutan bagi masyarakat masih terkendala minimnya dokter spesialis yang menetap.

    Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benny, mengungkapkan bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi pada infrastruktur, melainkan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum stabil. Menurutnya, kebutuhan tenaga medis ahli sangat mendesak untuk melayani rujukan warga desa.

    “Cuma kendalanya di rumah sakit itu kebutuhan tenaga medis, di dokter spesialis masih kurang banyaknya, Bu,” ungkap Benny Kamis (20/11/2025).

    Benny menyoroti pola sirkulasi tenaga medis di RS Pratama yang dinilai terlalu cepat berganti (turnover tinggi). Dokter spesialis yang ditugaskan seringkali tidak bertahan lama, sehingga layanan kesehatan tertentu kerap terputus atau berganti personel dalam waktu singkat.

    “Masuk enggak lama keluar, masuk lagi. Nah, kalau yang sekarang ini yang terbaru saya kurang update,” jelasnya menggambarkan situasi tersebut.

    Beberapa layanan vital yang sempat terisi namun kerap berganti dokter antara lain poli gigi, kandungan, dan penyakit dalam. Kondisi ini membuat pelayanan menjadi kurang konsisten bagi pasien yang membutuhkan perawatan berkelanjutan.

    “Kemarin itu sempat ada dokter gigi, dokter kandungan, spesialis penyakit dalam. Nah, itu juga dokter gigi itu saja sudah berapa kali ganti,” tambah Benny.

    Terkait data pasti jumlah kekosongan dokter saat ini, Benny menyarankan agar pihak terkait melakukan koordinasi langsung dengan manajemen rumah sakit guna mendapatkan gambaran riil permasalahan SDM tersebut.

    “Makanya saya kalau yang terupdate yang per hari ini, saya kurang update. Mungkin bisa dikonfirmasi langsung sama direktur rumah sakitnya,” tutupnya. (Adv/Kominfo)

  • Infrastruktur Muara Bengkal Membaik, Jalan dan Utilitas Kian Terjamin

    Infrastruktur Muara Bengkal Membaik, Jalan dan Utilitas Kian Terjamin

    Kutai Timur – Pembangunan infrastruktur dasar di wilayah Kecamatan Muara Bengkal terus menunjukkan progres positif. Kepala Desa Benua Baru, Ahmad Benny, mengungkapkan bahwa akses jalan, listrik, hingga air bersih kini semakin memadai untuk menunjang aktivitas masyarakat setempat.

    Terkait aksesibilitas, Benny menyebut penanganan jalan penghubung antar desa terus dikebut pemerintah daerah, baik melalui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) maupun skema tahun jamak (Multi Years).

    “Kalau antar desa insyaallah ini sudah dalam progres. Nah, kalau itu selesai mungkin sudah antar desa sudah clear,” ujar Benny, Kamis (20/11/2025).

    Selain jalan penghubung, infrastruktur internal di Desa Benua Baru yang mayoritas penduduknya bermukim di bantaran sungai juga dinilai sudah mumpuni. Menurutnya, dua akses utama desa, baik jalur darat maupun lingkungan, telah tertangani dengan baik.

    “Jalan akses utamanya itu cuma ada dua. Nah, itu insyaallah sudah aman dan siap semua,” tambahnya.

    Tak hanya fisik jalan, pemenuhan utilitas energi juga hampir merata. Benny memastikan pasokan listrik di wilayah kecamatan mayoritas sudah menyala sepanjang hari, meskipun masih ada pembenahan jaringan di beberapa titik desa tetangga.

    “Di Muara Bengkal ini semuanya sudah 24 jam, terkecuali Desa Senambah dan Desa Mulupan yang baru masuk tiang listriknya,” jelas Benny.

    Kenyamanan warga semakin lengkap dengan layanan air bersih yang stabil. Benny mengonfirmasi bahwa distribusi air PDAM di wilayahnya dan desa sekitar tidak lagi mengalami kendala berarti.

    “PDAM alhamdulillah kalau di Benua Baru itu sudah 24 jam juga air bersihnya,” pungkasnya. (Adv/Kominfo)

  • Antisipasi Gejolak Ekonomi, Bupati Kutim Perkuat Koordinasi dengan Kemenkeu

    Antisipasi Gejolak Ekonomi, Bupati Kutim Perkuat Koordinasi dengan Kemenkeu

    KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) menempatkan stabilitas keuangan daerah sebagai prioritas utama di tengah dinamika ekonomi nasional. Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI guna memastikan roda pembangunan daerah tidak terhambat oleh gejolak fiskal.

    ​Ardiansyah menyebutkan bahwa langkah proaktif ini diambil untuk meminimalisir dampak
    “turbulensi ekonomi” yang terjadi di tingkat pusat.

    Ia telah menginstruksikan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Sekretaris Daerah untuk menjalin komunikasi intensif dengan Kemenkeu.

    “Koordinasi ini bukan sekadar pelaporan, tetapi strategi menyinkronkan kebijakan pusat dan daerah. Kami berharap tahun depan turbulensi ekonomi bisa mereda,” ujar Ardiansyah, Selasa (20/11/2025)

    ​Bupati juga menyoroti pentingnya pengawalan terhadap kebijakan dana transfer, khususnya Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH). Komunikasi yang baik diharapkan dapat mencegah keterlambatan penyaluran anggaran yang berpotensi mengganggu pelayanan publik.

    ​Di sisi lain, Ardiansyah mengapresiasi figur Menteri Keuangan baru yang dinilai memiliki pandangan progresif dalam memahami kondisi fiskal daerah.

    Optimisme ini mendorong Pemkab Kutim untuk meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar lebih cermat dalam pengelolaan anggaran prioritas.

    ​“Prinsipnya, apapun situasinya, pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti. Itu yang utama,” tegasnya.

    ​Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan pusat, Pemkab Kutim optimis mampu menjaga stabilitas fiskal serta mempertahankan keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan ekonomi di Kutai Timur.(Adv/Kominfo)

  • Program Susu Gratis di Kutim Diperkuat, Sejalan dengan Prioritas Nasional Peningkatan Gizi

    Program Susu Gratis di Kutim Diperkuat, Sejalan dengan Prioritas Nasional Peningkatan Gizi

    Kutai Timur – Program minum susu gratis yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini semakin diperkuat sebagai langkah unggulan daerah untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak usia sekolah.

    Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa program ini merupakan salah satu dari 50 program prioritas Bupati Kutim. Selain itu, program ini juga sejalan dan senapas dengan delapan misi prioritas yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam agenda peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
    “Ini termasuk 50 program Pak Bupati dan sesuai dengan misi Presiden Prabowo untuk menyehatkan masyarakat, termasuk bagian dari Misi Besar Gizi (MBG),” ujar Sumarno,Kamis (20/11/2025)

    Menurutnya, pemberian susu gratis ini bertujuan ganda, yakni untuk mendorong tumbuh kembang serta meningkatkan kecerdasan anak-anak di Kutai Timur. Program ini disiapkan sebagai intervensi gizi yang signifikan demi memperbaiki kualitas sumber daya manusia di daerah.
    “Tujuannya memang untuk mencerdaskan anak-anak Kutai Timur dan memperbaiki asupan gizi mereka,” tambahnya.

    Mengenai potensi kekhawatiran masyarakat terkait intoleransi laktosa, Sumarno memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus intoleransi di Kutim. Proses pendataan dan pencegahan selalu dilakukan oleh pihak sekolah sebelum susu dibagikan.
    “Sebelum dibagikan, guru-guru selalu menanyakan apakah ada anak yang alergi susu. Dan sejauh ini belum ditemukan kasus intoleran laktosa di Kutim,” tegasnya.

    Ke depan, program susu gratis ini juga akan disinergikan dengan program pencegahan stunting yang telah berjalan di Dinas Kesehatan.

    Melalui langkah terpadu ini, Pemerintah Kabupaten berharap peningkatan gizi dapat menyasar secara komprehensif, tidak hanya balita, tetapi juga anak usia sekolah sebagai upaya jangka panjang memperkuat fondasi kesehatan masyarakat Kutai Timur. (Adv/Kominfo)

  • Anak Disabilitas Perlu Ruang Ekspresi dalam Event Pemerintah Agar Tidak Merasa Tersisih

    Anak Disabilitas Perlu Ruang Ekspresi dalam Event Pemerintah Agar Tidak Merasa Tersisih

    Kutai Timur – Kepala DP3A Kutai Timur, Idham Kholid, kembali menegaskan pentingnya memberi ruang bagi anak-anak disabilitas dalam setiap kegiatan pemerintah. Dalam FGD PUG di Sangatta, ia menyampaikan bahwa anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun intelektual sering terabaikan dalam event-event OPD.

    Ia meminta agar seluruh OPD mulai membuka kesempatan bagi mereka untuk tampil dalam kegiatan resmi, seperti menyanyi, menari, atau menunjukkan kreativitas sesuai kemampuan masing-masing.

    “Apa susahnya memberi mereka kesempatan? Mereka juga ingin dihargai dan diberi ruang untuk berekspresi,” ujarnya.

    Menurut Idham, kurangnya kesempatan tersebut dapat membuat anak-anak disabilitas merasa terasing dan tidak dihargai. Bahkan banyak keluarga melapor bahwa anak-anak mereka sering merasa didiskriminasi.

    “Ini bisa membuat mereka pesimis menghadapi hidup. Kita harus hadir memberi motivasi,” katanya.

    Idham menyebut pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk menciptakan ruang inklusif. Ia meminta agar OPD yang sering menggelar event agar mengevaluasi kembali kegiatan mereka agar lebih ramah disabilitas.

    “Kalau bukan kita yang memperhatikan, siapa lagi? Kabupaten lain tidak mungkin memperhatikan anak-anak kita,” tegasnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa keadilan gender dan inklusivitas adalah bagian dari pembangunan yang merata. Karena itu, OPD harus menjadikan isu disabilitas sebagai bagian tak terpisahkan dari perencanaan.

    “Setiap anak berhak mendapatkan ruang, meskipun ekspresi mereka tidak sempurna. Kita beri semangat, beri panggung, beri kesempatan. Itu sangat berarti bagi masa depan mereka,” pungkasnya.(Adv/Kominfo)

  • Trotoar dan Ruang Publik Ramah Disabilitas Masuk Kategori Anggaran Responsif Gender

    Trotoar dan Ruang Publik Ramah Disabilitas Masuk Kategori Anggaran Responsif Gender

    Kutai Timur – Kepala DP3A Kutai Timur, Idham Kholid, menjelaskan bahwa implementasi Pengarusutamaan Gender (PUG) tidak hanya berbicara mengenai program untuk perempuan saja, tetapi juga terkait pembangunan fisik yang memberi akses setara bagi seluruh masyarakat.

    “Banyak yang salah paham. Mereka mengira PUG hanya menyediakan ruang laktasi atau layanan khusus perempuan. Padahal membangun trotoar ramah disabilitas pun termasuk anggaran responsif gender,” ujar Idham,Kamis (20/11/2025)

    Ia mencontohkan ruang publik yang menyediakan jalur khusus disabilitas, tempat pelayanan umum yang mudah diakses kursi roda, hingga desain gedung pemerintah yang ramah penyandang disabilitas. Semua itu merupakan bagian dari pembangunan inklusif.

    Idham menyebut fasilitas publik yang tidak memperhatikan kelompok rentan merupakan bentuk ketidakadilan. “Kalau kita membangun ruang publik, tetapi anak-anak disabilitas tidak bisa mengakses, itu berarti ada yang salah dalam perencanaan,” katanya.

    Ia berharap OPD lebih kreatif dan peka dalam mengusulkan program yang mengandung unsur PUG. Menurutnya, banyak kegiatan fisik yang sebenarnya dapat dikategorikan responsif gender, tetapi tidak disertakan karena minimnya pemahaman teknis.
    Dengan adanya Perda Nomor 5 Tahun 2024 tentang PUG, Idham menilai bahwa Kutai Timur sudah berada di jalur yang benar. “Sekarang sudah ada payung hukum. Tinggal bagaimana OPD menjalankannya secara konsisten,” ujarnya.

    Ia mengajak seluruh OPD mulai memasukkan unsur PUG dalam perencanaan tahun 2026. “Walaupun anggaran sedang menantang, yang terpenting adalah keadilan dalam pembagiannya. Fasilitas kecil tetapi berkeadilan jauh lebih berarti daripada anggaran besar tapi tidak tepat sasaran,” tutupnya.(Adv/Kominfo)

  • DPMDes Kutim Finalisasi Indikator Evaluasi Dana RT, Tekankan Data Validasi

    DPMDes Kutim Finalisasi Indikator Evaluasi Dana RT, Tekankan Data Validasi

    Kutai Timur – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sedang menyusun dan mematangkan rumusan indikator evaluasi untuk program Dana Rukun Tetangga (RT). Langkah ini diambil untuk memastikan efektivitas program dalam mencapai target pembangunan yang diinginkan di tingkat masyarakat paling bawah.

    Kepala DPMDes Kutim, Muhammad Basuni, menjelaskan bahwa meskipun mekanisme pelaksanaan anggaran Dana RT telah berjalan sesuai regulasi APBD, standar penilaian kinerja yang spesifik masih dalam tahap finalisasi.

    “Kami belum merumuskan indikator pengukuran ini secara final. Namun, dalam waktu dekat, indikator pencapaian akan segera kami tetapkan,” ujar Basuni, Rabu (19/11/2025)

    Menurutnya, indikator ini sangat penting (krusial) untuk mengukur dampak nyata Dana RT terhadap empat tujuan utama program. Keempat tujuan tersebut meliputi peningkatan layanan dasar, pembangunan infrastruktur di lingkungan RT, serta percepatan penanganan masalah kemiskinan dan stunting.

    Dalam proses evaluasi kinerja ini, peran pendamping desa hingga tingkat kabupaten dianggap sangat vital. Mereka akan berfungsi sebagai katalisator dalam mekanisme pelaporan berjenjang.

    “Pendamping ini nanti yang akan melaporkan secara bertahap. Dari laporan itulah kami mengukur efektivitas program dan dampaknya di lapangan,” jelas Basuni.

    Lebih lanjut, Basuni menekankan bahwa keberhasilan program Dana RT tidak semata ditentukan oleh besaran alokasi anggaran, melainkan pada validitas data yang digunakan. Ia mendorong seluruh pengurus RT untuk memverifikasi data kemiskinan dan stunting agar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

    “Jika data dari pusat dianggap kurang akurat, RT didorong untuk menggunakan data lapangan yang benar-benar mencerminkan kondisi warganya. Akurasi data menjadi kunci,” pungkasnya.(Adv/Kominfo)

  • DLH Kutim Terapkan Konsep Pengelolaan Sampah Berjenjang, Targetkan 70 Persen Sampah Tak Lagi ke TPA

    DLH Kutim Terapkan Konsep Pengelolaan Sampah Berjenjang, Targetkan 70 Persen Sampah Tak Lagi ke TPA

    Kutai Timur-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur terus memperkuat sistem pengelolaan sampah modern dengan konsep pengelolaan berjenjang dari hulu hingga hilir.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (PPLHD) DLH Kutim, Dewi, menyebutkan, langkah ini menjadi strategi utama untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

    Menurut Dewi, berdasarkan data DLH, sekitar 60 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat Kutim merupakan sampah organik. Karena itu, pengelolaan yang efektif terhadap jenis sampah ini akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan pengurangan beban TPA.

    “Kita ingin TPA ke depan hanya menampung residu saja, sekitar 30 persen. Jadi 70 persen sisanya harus bisa kita kelola di tingkat masyarakat,” ujar Dewi, Rabu (19/11/2025)

    Untuk mencapai target tersebut, DLH telah merancang konsep pengelolaan yang melibatkan masyarakat di tingkat RT. Sebanyak 20 RT binaan sedang mendapatkan pendampingan khusus agar mampu melakukan pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri.

    “Di tahap awal, 20 RT ini akan menjadi contoh. Setelah sistemnya mapan, baru akan kita kembangkan ke wilayah lain,” katanya.

    Selain pemberdayaan di tingkat masyarakat, DLH juga berencana memaksimalkan fungsi TPS 3R di Pasar Induk Sangatta. Fasilitas ini akan dijadikan pusat pengolahan sampah organik (Organik Center), dengan fokus pada pengolahan limbah menjadi produk bermanfaat seperti kompos, maggot, dan pupuk alami.

    “Untuk sementara kami masih menggunakan sarana prasarana yang ada, tapi ke depan fasilitas ini akan ditingkatkan kapasitasnya,” ujar Dewi.

    Langkah-langkah itu merupakan bagian dari transformasi sistem persampahan Kutai Timur yang kini mulai meninggalkan metode open dumping menuju controlled landfill. Sistem baru ini memastikan sampah yang dibuang telah melalui proses pemadatan dan penutupan berlapis dengan tanah, sehingga meminimalkan potensi pencemaran lingkungan.

    “Sekarang sudah jauh lebih baik. Sampah yang masuk ke TPA kita ratakan, padatkan, lalu ditutup tanah setebal 20 sentimeter. Ini cara yang lebih ramah lingkungan dan sesuai standar nasional,” ungkap Dewi.

    Menurutnya, peningkatan pengelolaan sampah bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga perubahan perilaku masyarakat. DLH terus menggencarkan edukasi tentang pemilahan sampah di sumber, pemanfaatan sampah organik, dan pengurangan sampah plastik.

    “Kalau perilaku masyarakat berubah, sistem pengelolaan akan jauh lebih efektif. Itu yang terus kami dorong,” tambahnya.

    Dewi menilai, keberhasilan pengelolaan sampah akan menjadi penopang utama dalam peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH). Karena itu, DLH menjadikan sektor persampahan sebagai prioritas meski anggaran terbatas.

    “Sekarang yang paling urgen memang sampah. Kita harap semua pihak memahami pentingnya sektor ini,” tegasnya(Adv/Kominfo)

  • Kutim Peringkat 9 Ketimpangan Gender di Kaltim, Akses Perempuan ke Jabatan Strategis Disorot

    Kutim Peringkat 9 Ketimpangan Gender di Kaltim, Akses Perempuan ke Jabatan Strategis Disorot

    Kutai Timur – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih bergulat dengan masalah serius terkait ketimpangan gender. Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutim, Idham Kholid, daerah ini berada di peringkat ke-9 dari 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur berdasarkan indeks ketimpangan gender.

    Idham menyoroti disparitas signifikan yang masih terjadi dalam berbagai aspek, mulai dari akses pendidikan, kesempatan kerja, hingga, yang paling menonjol, keterlibatan perempuan dalam posisi strategis di pemerintahan.”Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita masih menunjukkan selisih yang cukup besar. Begitu pula di jabatan-jabatan penting terkait pengambilan keputusan, yang masih didominasi laki-laki. Kesenjangan ini wajib menjadi perhatian serius,” tegas Idham, Rabu (19/11/2025).

    Menurutnya, minimnya keterwakilan perempuan di posisi-posisi strategis mengindikasikan bahwa pembangunan di Kutim belum sepenuhnya bersifat inklusif. Idham menegaskan bahwa ketimpangan gender adalah isu krusial yang secara langsung memengaruhi efektivitas dan kualitas pembangunan daerah secara keseluruhan. Ia juga menyinggung adanya kekeliruan persepsi di kalangan OPD bahwa Anggaran Responsif Gender (ARG) hanya ditujukan untuk perempuan. “Sering dianggap bahwa Pengarusutamaan Gender (PUG) itu hanya untuk kaum perempuan. Padahal, konsep gender adalah memastikan semua warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, mendapat akses yang setara dan adil,” jelasnya.

    Oleh karena itu, Idham menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap program-program yang dijalankan oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk analisis data dan perencanaan anggaran yang lebih akurat. Ia berharap semua OPD mulai memasukkan perspektif gender dalam setiap kegiatan, baik program pelatihan, pemberdayaan, maupun pembangunan lainnya.

    “Ketimpangan gender bukan hanya urusan DP3A, tetapi ini adalah tanggung jawab kita semua. Jika pembangunan yang adil dan merata ingin kita capai, maka akses dan kesempatan bagi perempuan harus ditingkatkan secara serius,” tutupnya,(Adv/Kominfo)

  • Kadis P3A Kutim Peringatkan Anggaran 2026 “Gelap Gulita”, OPD Diminta Tetap Prioritaskan PUG

    Kadis P3A Kutim Peringatkan Anggaran 2026 “Gelap Gulita”, OPD Diminta Tetap Prioritaskan PUG

    Kutai Timur – Kepala DP3A Kutai Timur, Idham Kholid, menyampaikan bahwa tahun anggaran 2026 diprediksi menjadi tahun yang cukup berat bagi seluruh instansi pemerintah daerah. Dalam FGD PUG di Sangatta, ia menyebut kondisi anggaran diperkirakan “gelap gulita” dan penuh ketidakpastian.

    Meski demikian, Idham meminta agar seluruh OPD tetap memasukkan unsur anggaran responsif gender dalam program mereka. “Bukan besar kecil anggarannya yang penting, tetapi keadilannya. Bagaimana anggaran itu memberikan manfaat kepada semua kalangan,” ucapnya saat membuga FGD di hotel royal victori, Rabu (19/11/2025).

    Ia menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi PUG sangat bergantung pada kolaborasi tiga unsur utama Bappeda sebagai lembaga perencanaan, Inspektorat sebagai lembaga pengawas, dan BPKAD sebagai pengelola anggaran. Jika ketiganya solid, maka penerapan PUG akan lebih kuat.

    Idham mengingatkan bahwa mulai tahun 2025 sudah terdapat sanksi administratif bagi OPD yang tidak mengalokasikan anggaran responsif gender sesuai dengan Perda Nomor 5 Tahun 2024. “Walaupun bukan pidana, tetapi sanksi administratif tetap harus diperhatikan,” katanya.

    Menurutnya, penganggaran yang tidak memasukkan perspektif gender mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap pembangunan inklusif. Ia meminta OPD tidak menunda lagi penyelarasan program. “Kalau tidak dimulai sekarang, tahun 2026 bisa semakin berat,” katanya.

    Idham juga mengingatkan bahwa OPD tidak boleh sekadar menyusun program tanpa analisis kebutuhan lapangan. “Kalau kegiatan tidak responsif gender, Inspektorat bisa memberi catatan kepada kepala dinas. Ini bukan sekadar aturan, tetapi amanah,” tegasnya.

    Ia berharap FGD ini menjadi titik awal perubahan pola pikir dalam perencanaan anggaran. “Kita ingin memastikan bahwa meski anggaran menantang, semangat keadilan gender tetap menjadi prioritas,” tutupnya.(Adv/Kominfo).