Category: Kominfo Kutim

  • Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Kutai Timur – Tidak hanya sekolah, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur kini memperluas kegiatan edukasi hingga ke rumah ibadah.

    Program Rumah Ibadah Ramah Anak ini diinisiasi untuk menciptakan tempat beribadah yang juga aman dan nyaman bagi anak-anak.

    Kabid Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winarni, Menyebutkan kegiatan sosialisasi ini dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat dan pengelola tempat ibadah.

    “Beberapa waktu lalu kami mengundang pihak gereja untuk memberikan sosialisasi tentang rumah ibadah ramah anak. Mereka sangat antusias,” ungkap Rita,saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/11/2025).

    Menurutnya, rumah ibadah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, edukasi ramah anak perlu dilakukan di semua lingkungan, termasuk tempat ibadah.

    “Lingkungan ibadah adalah tempat yang berpengaruh bagi anak, jadi harus menjadi ruang yang aman dan mendidik,” jelasnya.

    Selain gereja, DP3A juga siap memberikan pendampingan ke masjid, pura, atau tempat ibadah lain yang ingin menerapkan konsep serupa.

    “Kami terbuka untuk semua pihak. Selama tujuannya sama, yaitu melindungi anak, kami siap mendukung,” ujar Rita.

    Program ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DP3A dalam memperkuat hak anak di Kutai Timur. Tidak hanya pada sektor formal seperti pendidikan dan kesehatan, tetapi juga pada aspek spiritual dan sosial.

    Harapannya, di mana pun anak berada, mereka merasa aman, dihargai, dan dilindungi, tutup Rita.(Adv/Kominfo)

  • Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Kutai Timur – Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, terus berinovasi dalam mengembangkan potensi seni dan ekonomi kreatif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kegiatan wayang orang yang digelar di kawasan Panorama, menjadi perpaduan antara seni, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.

    Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengatakan, kegiatan wayang orang ini tidak sekadar hiburan. Ia menyebut, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan perajin batik untuk memamerkan karya mereka.

    “Wayang orang di Panorama ini bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan hasil kreasinya,” ungkap Wahyuddin, Jumat (7/11/2025).

    Ia menjelaskan, pertunjukan ini diadakan secara berkala dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan wisatawan lokal. Momen itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan batik khas Swarga Bara.

    “Setiap pementasan, kita libatkan warga yang punya usaha kecil, mulai dari kuliner hingga batik. Jadi ekonomi berputar sekaligus budaya kita hidup,” ujarnya.

    Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan ini mempererat kebersamaan masyarakat desa. Pemerintah desa pun terus memberikan dukungan melalui dana kegiatan dan pembinaan generasi muda.

    “Anak-anak muda kita arahkan agar ikut aktif di kegiatan budaya seperti ini, supaya mereka bangga dengan identitas desanya sendiri,” tutur Wahyuddin.

    Ia berharap, kegiatan seni seperti wayang orang dapat menjadi ciri khas Swarga Bara ke depan. Pemerintah desa juga berencana menggandeng pihak ketiga untuk membantu promosi wisata budaya desa.(Adv/Kominfo)

  • Petani Karet Kutim Dapat Bimbingan Teknis, Hasil Panen Dipasarkan ke Luar Daerah

    Petani Karet Kutim Dapat Bimbingan Teknis, Hasil Panen Dipasarkan ke Luar Daerah

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perkebunan terus memperkuat sektor perkebunan rakyat, termasuk bagi para petani karet. Melalui berbagai program dan pelatihan teknis, petani diharapkan mampu meningkatkan kualitas getah yang dihasilkan.

    Kabid Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Disbun Kutim, Aminudin Azis, mengatakan bahwa karet masih menjadi salah satu komoditas andalan yang banyak diusahakan masyarakat di pedesaan. Namun, cara penyadapan yang belum tepat kerap mempengaruhi kualitas hasil.

    “Kami memberikan bimbingan teknis agar petani tahu cara menyadap yang benar, menjaga mutual lateks, dan tidak merusak pohon,” jelas Aminudin, Jumat (7/11/2025)

    Selain pelatihan teknis, Dinas juga memfasilitasi akses pemasaran hasil karet. Menurut Aminudin, saat ini beberapa kelompok petani telah diarahkan untuk menyalurkan hasil panen mereka ke pabrik karet di Samarinda.

    “Kita membantu mereka agar hasilnya terserap ke pabrik di Samarinda. Dengan begitu, rantai distribusi jadi lebih pasti dan harga bisa lebih stabil,” ujarnya.

    Langkah ini disambut baik oleh para petani, karena sebelumnya mereka sering kesulitan mencari pembeli tetap. Dinas berharap pola kemitraan seperti ini bisa terus membahas wilayah lain.

    “Kalau sudah ada kepastian pasar, petani akan lebih semangat. Kita juga bantu fasilitasi supaya ada kesepakatan harga yang wajar,” tambahnya.

    Aminudin menjelaskan, pemerintah daerah tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pembenahan sistem pemasaran dan peningkatan nilai tambah.

    “Kalau dulu petani hanya menjual bahan mentah, sekarang kita arahkan untuk mulai berpikir bagaimana produk itu bisa diproses, dikeringkan dengan benar, bahkan dikemas lebih baik,” katanya.

    Ia menegaskan, sektor karet tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat Kutim di banyak kecamatan. Oleh karena itu, pelatihan akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

    “Kalau kualitasnya bagus dan penjualannya lancar, petani kita pasti lebih sejahtera,” tutup Aminudin.(Adv/Kominfo)

  • DP3A Kutim Optimistis Naikkan Status Kabupaten Layak Anak ke Level Nindya

    DP3A Kutim Optimistis Naikkan Status Kabupaten Layak Anak ke Level Nindya

    Kutai Timur – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur terus berupaya meningkatkan status Kabupaten Layak Anak (KLA) dari peringkat Madya menjadi Nindya pada tahun 2026. Meskipun capaian saat ini sudah cukup baik, masih terdapat beberapa indikator yang perlu diperkuat agar target tersebut dapat tercapai.

    Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winarni, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penilaian terakhir, Kutai Timur hanya terpaut sekitar 3,1 poin untuk naik ke level berikutnya.

    “Nilai kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan kategori Nindya. Hanya selisih tiga koma satu poin, jadi kami optimistis tahun depan bisa tercapai,” ujar Rita, Jumat (7/11/2025).

    Ia menjelaskan, peningkatan status KLA bukan hanya persoalan administratif, melainkan cerminan dari keseriusan pemerintah daerah dalam menjamin pemenuhan hak anak di seluruh wilayah Kutim.

    “Predikat ini bukan sekadar label. Ia menunjukkan sejauh mana daerah mampu menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak-anak,” tambahnya.

    Untuk itu, DP3A kini memperkuat koordinasi lintas bidang dan lintas sektor guna memastikan seluruh indikator dalam klaster KLA dapat terpenuhi secara optimal. Indikator tersebut meliputi aspek kelembagaan, pendidikan, kesehatan, waktu luang, dan perlindungan khusus bagi anak.

    ” Semua sektor harus bergerak bersama. Tidak bisa hanya DP3A yang bekerja sendiri,” tegas Rita.

    Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan, sekolah, puskesmas, hingga perusahaan swasta, dalam memperkuat komitmen bersama mewujudkan Kutai Timur sebagai daerah ramah anak.

    Selain dukungan kelembagaan, kata Rita, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak juga menjadi faktor kunci dalam meraih predikat Nindya.

    “Lingkungan yang peduli dan ramah anak adalah pondasi utama untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak secara berkelanjutan,” tutupnya (AdvKominfo)

  • Bank Sampah Kalpataru Bukit Pelangi Jadi Model Pengelolaan Limbah Anorganik di Kutim

    Bank Sampah Kalpataru Bukit Pelangi Jadi Model Pengelolaan Limbah Anorganik di Kutim

    Kutai Timur-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berinovasi dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di kawasan perkantoran. Salah satu langkah terobosan yang kini dijalankan adalah pengembangan Bank Sampah Kalpataru di kawasan Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (PPLHD) DLH Kutim, Dewi, menyebut program ini menjadi model pengelolaan limbah anorganik yang melibatkan langsung aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutim.“Kalpataru ini kita jadikan contoh bahwa kantor pemerintahan pun bisa ikut berperan dalam pengurangan sampah plastik dan kertas. Jadi bukan hanya masyarakat yang dituntut peduli,” ujarnya, Jumat (7/11/2025)

    Bank sampah ini mulai aktif sejak tahun lalu dan kini telah memiliki puluhan nasabah tetap dari kalangan pegawai negeri, tenaga kontrak, dan petugas kebersihan. Setiap bulannya, ratusan kilogram sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng berhasil dikumpulkan dan dijual kembali ke pengepul.

    Dewi menjelaskan bahwa sistemnya sederhana, namun efektif. Setiap kantor atau individu yang menjadi nasabah buku tabungan sampah. Hasil penjualan akan dikonversi ke dalam bentuk saldo yang dapat diambil dalam jangka waktu tertentu.“Nilainya mungkin tidak besar, tapi yang paling penting adalah kesadaran yang tumbuh. Sampah jadi punya nilai ekonomi, bukan sekedar limbah,” tambahnya.

    DLH Kutim kini tengah mendorong agar semua instansi di Bukit Pelangi ikut bergabung menjadi nasabah aktif. Upaya ini sekaligus untuk menanamkan budaya kerja bersih dan hemat di lingkungan birokrasi. Selain menjadi tempat pengumpulan, Bank Sampah Kalpataru juga difungsikan sebagai pusat edukasi lingkungan. ASN yang bergabung akan mendapat pembekalan mengenai pemilahan sampah dan konsep Reduce-reuse-recycle (3R) untuk diterapkan di kantor masing-masing. 

    “Kalau pegawai di kantor sudah sadar memilah sampah, maka contoh baik itu akan menular ke rumah tangganya. Jadi efeknya berlipat ganda,” tutupnya .(Adv/Kominfo)