Category: Pemerintahan

  • DLH Kutim Gencarkan Sosialisasi Jam Buang Sampah

    DLH Kutim Gencarkan Sosialisasi Jam Buang Sampah

    Kutai Timur – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait waktu pembuangan sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur berencana melakukan sosialisasi melalui tempat-tempat ibadah.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah, Dewi Dohi, mengatakan bahwa masih banyak warga yang belum memahami aturan waktu pembuangan sampah sebagaimana diatur dalam Perda, yaitu mulai pukul 18.00 hingga 06.00 pagi.

    “Sering kali masyarakat membuang sampah di luar jam yang diperbolehkan. Jadi, kami akan melakukan pendekatan yang lebih langsung, salah satunya lewat tempat ibadah,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).

    Menurutnya, tempat ibadah memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi. Pihaknya akan memanfaatkan momen menjelang azan, sebelum salat Jumat, dan selepas salat Subuh untuk menyampaikan imbauan.

    “Kami menilai tempat ibadah sangat efektif, karena masyarakat berkumpul di sana dan pesannya bisa langsung diterima,” jelas Dewi.

    Langkah ini juga merupakan upaya mempercepat penyebarluasan informasi tanpa hanya mengandalkan surat edaran yang kadang berhenti di tingkat RT.

    “Kadang surat sudah kami sebarkan, tapi tidak diteruskan ke warga. Dengan pengumuman langsung lewat masjid dan gereja, informasi bisa lebih cepat sampai,” tambahnya.

    DLH juga berencana bekerja sama dengan para tokoh agama dan lembaga keagamaan agar pesan kebersihan menjadi bagian dari edukasi moral.
    “Menjaga kebersihan itu bagian dari ibadah. Jadi, kami ingin pesan itu hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Sosialisasi ini sekaligus menegaskan komitmen DLH dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas sampah.

    Selain edukasi, DLH juga akan menertibkan lokasi pembuangan pembohong yang masih ditemukan di beberapa titik di Sangatta. Pengawasan akan dilakukan secara rutin bersama petugas lapangan.

    “Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama. Kami ingin membangun budaya tertib buang sampah,” tegas Dewi.(Adv/Kominfo)

  • Dinas Perkebunan Kutim Dorong Olahan Gula Aren Jadi Produk Unggulan Desa

    Dinas Perkebunan Kutim Dorong Olahan Gula Aren Jadi Produk Unggulan Desa

    Kutai Timur – Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur terus mendorong lahirnya produk unggulan daerah berbasis hasil perkebunan rakyat. Salah satunya melalui pelatihan petani aren agar mampu mengolah nira menjadi gula aren dan produk turunannya yang bernilai tinggi.

    Kabid Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Kutim, Aminudin Azis, menyebutkan, selama ini potensi aren di Kutai Timur cukup besar dan tersebar di beberapa kecamatan. Namun banyak petani yang masih menjual dalam bentuk bahan mentah tanpa diolah lebih lanjut.“Kami ingin petani tidak hanya berhenti memproduksi nira. Tapi bisa mengolahnya menjadi gula aren, gula semut, bahkan produk campuran minuman instan berbasis aren,” ungkap Aminudin, Sabtu (8/11/2025).

    Ia mencontohkan, beberapa desa yang sudah mendapat pendampingan teknis seperti Desa Maruko Nalon dan Desa Prikambang di Kecamatan Sangkulirang. Di wilayah itu, petani mulai belajar mengolah nira menjadi produk jadi dengan peralatan sederhana namun higienis.“Bantuan teknis yang kami berikan meliputi cara pengolahan yang baik, pengemasan, serta peningkatan kualitas produk agar lebih diterima pasar,” jelasnya.

    Selain aspek produksi, Dinas juga memberi perhatian pada pemasaran. Aminudin mengatakan, pihaknya terus membuka peluang promosi dan mempertemukan produk petani dengan calon pembeli.“Dari sisi pemasaran, kami bantu promosi. Kita mendorong agar produk gula semut Kutim bisa dikenal lebih luas, terutama di toko-toko lokal maupun marketplace,” tambahnya.

    Ia menyebut, tren minuman sehat berbasis gula aren semakin digemari. Oleh karena itu, Kutai Timur dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan pendapatan petani desa.“Kalau petani bisa olah dengan baik dan punya jaringan pasar, hasilnya akan jauh lebih menguntungkan,” tuturnya.

    Aminudin menegaskan, pengolahan bukan sekadar soal produksi, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.“Semangat kita satu: dari desa, untuk desa, tapi bernilai nasional,” tutupnya.(Adv/Kominfo)

  • Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Kutai Timur – Tidak hanya sekolah, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur kini memperluas kegiatan edukasi hingga ke rumah ibadah.

    Program Rumah Ibadah Ramah Anak ini diinisiasi untuk menciptakan tempat beribadah yang juga aman dan nyaman bagi anak-anak.

    Kabid Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winarni, Menyebutkan kegiatan sosialisasi ini dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat dan pengelola tempat ibadah.

    “Beberapa waktu lalu kami mengundang pihak gereja untuk memberikan sosialisasi tentang rumah ibadah ramah anak. Mereka sangat antusias,” ungkap Rita,saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/11/2025).

    Menurutnya, rumah ibadah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, edukasi ramah anak perlu dilakukan di semua lingkungan, termasuk tempat ibadah.

    “Lingkungan ibadah adalah tempat yang berpengaruh bagi anak, jadi harus menjadi ruang yang aman dan mendidik,” jelasnya.

    Selain gereja, DP3A juga siap memberikan pendampingan ke masjid, pura, atau tempat ibadah lain yang ingin menerapkan konsep serupa.

    “Kami terbuka untuk semua pihak. Selama tujuannya sama, yaitu melindungi anak, kami siap mendukung,” ujar Rita.

    Program ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DP3A dalam memperkuat hak anak di Kutai Timur. Tidak hanya pada sektor formal seperti pendidikan dan kesehatan, tetapi juga pada aspek spiritual dan sosial.

    Harapannya, di mana pun anak berada, mereka merasa aman, dihargai, dan dilindungi, tutup Rita.(Adv/Kominfo)

  • Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Kutai Timur – Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, terus berinovasi dalam mengembangkan potensi seni dan ekonomi kreatif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kegiatan wayang orang yang digelar di kawasan Panorama, menjadi perpaduan antara seni, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.

    Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengatakan, kegiatan wayang orang ini tidak sekadar hiburan. Ia menyebut, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan perajin batik untuk memamerkan karya mereka.

    “Wayang orang di Panorama ini bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan hasil kreasinya,” ungkap Wahyuddin, Jumat (7/11/2025).

    Ia menjelaskan, pertunjukan ini diadakan secara berkala dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan wisatawan lokal. Momen itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan batik khas Swarga Bara.

    “Setiap pementasan, kita libatkan warga yang punya usaha kecil, mulai dari kuliner hingga batik. Jadi ekonomi berputar sekaligus budaya kita hidup,” ujarnya.

    Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan ini mempererat kebersamaan masyarakat desa. Pemerintah desa pun terus memberikan dukungan melalui dana kegiatan dan pembinaan generasi muda.

    “Anak-anak muda kita arahkan agar ikut aktif di kegiatan budaya seperti ini, supaya mereka bangga dengan identitas desanya sendiri,” tutur Wahyuddin.

    Ia berharap, kegiatan seni seperti wayang orang dapat menjadi ciri khas Swarga Bara ke depan. Pemerintah desa juga berencana menggandeng pihak ketiga untuk membantu promosi wisata budaya desa.(Adv/Kominfo)

  • Petani Karet Kutim Dapat Bimbingan Teknis, Hasil Panen Dipasarkan ke Luar Daerah

    Petani Karet Kutim Dapat Bimbingan Teknis, Hasil Panen Dipasarkan ke Luar Daerah

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perkebunan terus memperkuat sektor perkebunan rakyat, termasuk bagi para petani karet. Melalui berbagai program dan pelatihan teknis, petani diharapkan mampu meningkatkan kualitas getah yang dihasilkan.

    Kabid Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Disbun Kutim, Aminudin Azis, mengatakan bahwa karet masih menjadi salah satu komoditas andalan yang banyak diusahakan masyarakat di pedesaan. Namun, cara penyadapan yang belum tepat kerap mempengaruhi kualitas hasil.

    “Kami memberikan bimbingan teknis agar petani tahu cara menyadap yang benar, menjaga mutual lateks, dan tidak merusak pohon,” jelas Aminudin, Jumat (7/11/2025)

    Selain pelatihan teknis, Dinas juga memfasilitasi akses pemasaran hasil karet. Menurut Aminudin, saat ini beberapa kelompok petani telah diarahkan untuk menyalurkan hasil panen mereka ke pabrik karet di Samarinda.

    “Kita membantu mereka agar hasilnya terserap ke pabrik di Samarinda. Dengan begitu, rantai distribusi jadi lebih pasti dan harga bisa lebih stabil,” ujarnya.

    Langkah ini disambut baik oleh para petani, karena sebelumnya mereka sering kesulitan mencari pembeli tetap. Dinas berharap pola kemitraan seperti ini bisa terus membahas wilayah lain.

    “Kalau sudah ada kepastian pasar, petani akan lebih semangat. Kita juga bantu fasilitasi supaya ada kesepakatan harga yang wajar,” tambahnya.

    Aminudin menjelaskan, pemerintah daerah tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pembenahan sistem pemasaran dan peningkatan nilai tambah.

    “Kalau dulu petani hanya menjual bahan mentah, sekarang kita arahkan untuk mulai berpikir bagaimana produk itu bisa diproses, dikeringkan dengan benar, bahkan dikemas lebih baik,” katanya.

    Ia menegaskan, sektor karet tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat Kutim di banyak kecamatan. Oleh karena itu, pelatihan akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

    “Kalau kualitasnya bagus dan penjualannya lancar, petani kita pasti lebih sejahtera,” tutup Aminudin.(Adv/Kominfo)

  • DP3A Kutim Optimistis Naikkan Status Kabupaten Layak Anak ke Level Nindya

    DP3A Kutim Optimistis Naikkan Status Kabupaten Layak Anak ke Level Nindya

    Kutai Timur – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur terus berupaya meningkatkan status Kabupaten Layak Anak (KLA) dari peringkat Madya menjadi Nindya pada tahun 2026. Meskipun capaian saat ini sudah cukup baik, masih terdapat beberapa indikator yang perlu diperkuat agar target tersebut dapat tercapai.

    Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winarni, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penilaian terakhir, Kutai Timur hanya terpaut sekitar 3,1 poin untuk naik ke level berikutnya.

    “Nilai kita sebenarnya sudah sangat dekat dengan kategori Nindya. Hanya selisih tiga koma satu poin, jadi kami optimistis tahun depan bisa tercapai,” ujar Rita, Jumat (7/11/2025).

    Ia menjelaskan, peningkatan status KLA bukan hanya persoalan administratif, melainkan cerminan dari keseriusan pemerintah daerah dalam menjamin pemenuhan hak anak di seluruh wilayah Kutim.

    “Predikat ini bukan sekadar label. Ia menunjukkan sejauh mana daerah mampu menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak-anak,” tambahnya.

    Untuk itu, DP3A kini memperkuat koordinasi lintas bidang dan lintas sektor guna memastikan seluruh indikator dalam klaster KLA dapat terpenuhi secara optimal. Indikator tersebut meliputi aspek kelembagaan, pendidikan, kesehatan, waktu luang, dan perlindungan khusus bagi anak.

    ” Semua sektor harus bergerak bersama. Tidak bisa hanya DP3A yang bekerja sendiri,” tegas Rita.

    Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah kecamatan, sekolah, puskesmas, hingga perusahaan swasta, dalam memperkuat komitmen bersama mewujudkan Kutai Timur sebagai daerah ramah anak.

    Selain dukungan kelembagaan, kata Rita, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak juga menjadi faktor kunci dalam meraih predikat Nindya.

    “Lingkungan yang peduli dan ramah anak adalah pondasi utama untuk mewujudkan Kabupaten Layak Anak secara berkelanjutan,” tutupnya (AdvKominfo)

  • Bank Sampah Kalpataru Bukit Pelangi Jadi Model Pengelolaan Limbah Anorganik di Kutim

    Bank Sampah Kalpataru Bukit Pelangi Jadi Model Pengelolaan Limbah Anorganik di Kutim

    Kutai Timur-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berinovasi dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di kawasan perkantoran. Salah satu langkah terobosan yang kini dijalankan adalah pengembangan Bank Sampah Kalpataru di kawasan Bukit Pelangi, Sangatta Utara.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah (PPLHD) DLH Kutim, Dewi, menyebut program ini menjadi model pengelolaan limbah anorganik yang melibatkan langsung aparatur sipil negara (ASN) dari berbagai instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutim.“Kalpataru ini kita jadikan contoh bahwa kantor pemerintahan pun bisa ikut berperan dalam pengurangan sampah plastik dan kertas. Jadi bukan hanya masyarakat yang dituntut peduli,” ujarnya, Jumat (7/11/2025)

    Bank sampah ini mulai aktif sejak tahun lalu dan kini telah memiliki puluhan nasabah tetap dari kalangan pegawai negeri, tenaga kontrak, dan petugas kebersihan. Setiap bulannya, ratusan kilogram sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kaleng berhasil dikumpulkan dan dijual kembali ke pengepul.

    Dewi menjelaskan bahwa sistemnya sederhana, namun efektif. Setiap kantor atau individu yang menjadi nasabah buku tabungan sampah. Hasil penjualan akan dikonversi ke dalam bentuk saldo yang dapat diambil dalam jangka waktu tertentu.“Nilainya mungkin tidak besar, tapi yang paling penting adalah kesadaran yang tumbuh. Sampah jadi punya nilai ekonomi, bukan sekedar limbah,” tambahnya.

    DLH Kutim kini tengah mendorong agar semua instansi di Bukit Pelangi ikut bergabung menjadi nasabah aktif. Upaya ini sekaligus untuk menanamkan budaya kerja bersih dan hemat di lingkungan birokrasi. Selain menjadi tempat pengumpulan, Bank Sampah Kalpataru juga difungsikan sebagai pusat edukasi lingkungan. ASN yang bergabung akan mendapat pembekalan mengenai pemilahan sampah dan konsep Reduce-reuse-recycle (3R) untuk diterapkan di kantor masing-masing. 

    “Kalau pegawai di kantor sudah sadar memilah sampah, maka contoh baik itu akan menular ke rumah tangganya. Jadi efeknya berlipat ganda,” tutupnya .(Adv/Kominfo)

  • Dana Hibah Ormas di Kutim Capai Rp1 Miliar, Kesbangpol Temukan Sejumlah Organisasi Fiktif

    Dana Hibah Ormas di Kutim Capai Rp1 Miliar, Kesbangpol Temukan Sejumlah Organisasi Fiktif

    Kutai Timur – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan penyaluran dana hibah tahun ini dilakukan secara selektif.

    Dari 11 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang diusulkan sebagai penerima, hanya tujuh yang dinyatakan lolos verifikasi. Empat lainnya terpaksa dicoret lantaran terindikasi fiktif dan tidak memenuhi persyaratan administratif.

    Kepala Kesbangpol Kutim, Tejo Yuwono, mengungkapkan proses seleksi dilakukan ketat melalui verifikasi lapangan untuk memastikan dana hibah benar-benar disalurkan kepada ormas yang aktif dan memiliki legalitas yang sah.

    “Awalnya ada 11 ormas yang diusulkan, tapi setelah kami verifikasi di lapangan, hanya tujuh yang lolos. Tiga lainnya bermasalah karena dibentuk dadakan, ada juga yang tempatnya tidak ada,” ujar Tejo, baru-baru ini di wawancarai awak media.

    Ia menjelaskan, tahapan verifikasi mencakup pengecekan akta notaris, susunan pengurus, serta keberadaan sekretariat atau kantor resmi ormas. Semua aspek itu wajib dipenuhi agar lembaga yang bersangkutan dapat menerima dana hibah dari pemerintah daerah.

    “Ormas itu wajib punya sekretariat, ada plang nama, dan struktur pengurus yang jelas. Harus lengkap, karena sekarang semua dipantau. Kalau main-main bisa berisiko hukum,” tegasnya.

    Adapun total dana hibah yang disiapkan tahun ini mencapai sekitar Rp1 miliar. Besaran alokasinya bervariasi, mulai dari Rp100 juta hingga Rp200 juta untuk masing-masing organisasi penerima.

    Namun, Tejo mengaku pihaknya tidak dilibatkan langsung dalam proses penentuan besaran dana bagi tiap ormas. Menurutnya, hal tersebut menjadi kewenangan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

    “Itu yang saya sayangkan. Harusnya Kesbangpol dilibatkan juga dalam menentukan. Karena kami yang tahu mana ormas yang benar-benar aktif dan layak dibina,” katanya.

    Sementara itu, penyaluran dana hibah untuk partai politik (parpol) di Kutim disebut telah selesai dilakukan. Setiap suara sah hasil Pemilu sebelumnya mendapat alokasi dana sebesar Rp7 ribu per suara.

    “Pokoknya per suara sah Rp7 ribu, dan ada sepuluh partai politik yang mendapatkannya,” tutup Tejo.

  • Pertanian Jadi Leading Sektor, Pemkab Kutim Dorong Hilirisasi Komoditas Lokal

    Pertanian Jadi Leading Sektor, Pemkab Kutim Dorong Hilirisasi Komoditas Lokal

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmen menjadikan pertanian sebagai leading sektor pembangunan jangka panjang. Tidak hanya berfokus pada produksi bahan mentah, Pemkab Kutim kini mendorong hilirisasi berbagai komoditas lokal agar nilai tambahnya meningkat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

    Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kutim, Wahyudi Noor, mengatakan arah pembangunan pertanian saat ini tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan pangan pokok, tetapi juga memacu tumbuhnya produk turunan yang lebih bernilai.

    “Kalau kita berbicara ketahanan pangan, pasti pangan utama itu padi. Secara bertahap kita akan memenuhi itu. Tapi yang secara existing sudah menjadi unggulan nasional, yang pertama adalah pisang kepok grecek. Itu sudah sesuai dengan SK Menteri Pertanian tahun 2015,” ujarnya, Sabtu (4/10/2025).

    Menurut Wahyudi, langkah hilirisasi akan menjadi kunci agar Kutim tidak hanya menjual produk dalam bentuk segar, melainkan juga mampu menghasilkan olahan yang berdaya saing tinggi.

    “Mudah-mudahan sesuai dengan RPJP Kutai Timur, kita sudah melakukan transformasi ekonomi sekaligus transformasi hilirisasi. Jadi, nanti kita tidak hanya menjual pisang atau produk apapun dalam bentuk buah segar, tapi juga produk turunannya,” tambahnya.

    Wahyudi mengakui, meski sektor pertanian belum mampu menyumbang angka besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dibandingkan pertambangan, pemerintah daerah tetap menjadikan pertanian sebagai pilar penting. Apalagi, sumber daya tambang seperti batubara dan minyak bumi merupakan kekayaan yang tidak terbarukan.

    “Kalau kita berkaca pada PDRB, sektor pertanian memang masih jauh kontribusinya dibandingkan tambang, baik secara nasional maupun lokal. Tapi harus kita sadari, tambang seperti batubara dan minyak bumi itu kan sumber daya yang tidak terbarukan,” tegasnya.

    Ia menyebut, konsistensi pembangunan pertanian sudah terlihat sejak awal berdirinya Kutim. Mulai dari program Gerakan Daerah (Gerda) Bank Agri hingga visi Kutim Hebat, pertanian tidak pernah ditinggalkan dari RPJM Kepala Daerah.

    “Kita secara bertahap terus melanjutkan upaya ini. Dari awal Kutim berdiri, RPJM Kepala Daerah tidak pernah meninggalkan sektor pertanian. Mulai dari Gerda Bank Agri sampai sekarang Kutim Hebat, leading sektor ke depannya pasti pertanian,” jelasnya.

    Wahyudi menekankan, penguatan sektor pertanian tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat. Melalui dukungan RPJPD dan RPJMD, arah pembangunan pertanian Kutim dipastikan semakin terarah.

    “Ini adalah bentuk kolaborasi pemerintah dengan komitmen legislatif melalui RPJPD dan RPJMD. Jadi arah pembangunan kita sudah jelas, pertanian menjadi sektor yang terus diperkuat,” pungkasnya.(Ciaa/*)

  • Bimtek Psikotes Pertama di Kutim, Dorong Pencari Kerja Lokal Lebih Siap Bersaing

    Bimtek Psikotes Pertama di Kutim, Dorong Pencari Kerja Lokal Lebih Siap Bersaing

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) tips dan trik menghadapi psikotes masuk perusahaan.

    Kegiatan ini tercatat sebagai yang pertama kali dilaksanakan di Kutim, bahkan diduga juga baru pertama di wilayah Kalimantan Timur. Bimtek ini di laksanakan mulai dari Tanggal 29 September – 01 Oktober 2025, Di Hotel Royal Victoria.

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, Bimtek ini sangat penting karena selama ini banyak pencari kerja lokal tersisih akibat tidak mampu bersaing di tahap psikotes.

    “Rata-rata pelamar kerja kita gugur di psikotes. Kadang perusahaan menjadikan itu alasan untuk memasukkan pekerja dari luar. Dengan adanya Bimtek ini, pencari kerja lokal akan lebih siap menghadapi tes tersebut,” ujar Mahyunadi.

    Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin lagi perusahaan beralasan ketika tidak memenuhi kewajiban penerapan Peraturan Daerah (Perda) Ketenagakerjaan 80:20. Aturan tersebut mewajibkan perusahaan mempekerjakan 80 persen tenaga kerja lokal dan 20 persen dari luar daerah.

    “Perda itu sudah ditegaskan dalam Perbup Nomor 6 Tahun 2024. Ke depan, kami akan lebih maksimal menegakkannya, termasuk mengawasi syarat rekrutmen yang tidak memberatkan tenaga kerja lokal,” tambahnya.

    Mahyunadi mencontohkan, dalam penerimaan kali ini hanya 112 orang yang akan direkrut dari 300 lebih pelamar. Namun ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat disebarkan dari mulut ke mulut agar semakin banyak pencari kerja lokal yang siap bersaing.

    Sementara itu, Kepala Disnakertrans Kutim, Roma Malau, menjelaskan bahwa psikotes sering menjadi faktor utama yang membuat pencari kerja gagal diterima perusahaan. Karena itu, pelatihan ini difokuskan untuk membekali peserta dengan pemahaman terkait keterampilan teknis dan soft skill.

    “Sering kali mereka kalah bukan karena tidak mampu bekerja, tetapi karena gagal di psikotes. Melalui Bimtek ini, kami ajarkan bagaimana menyeimbangkan kemampuan teknis dengan soft skill seperti pemecahan masalah dan komunikasi,” jelas Roma.

    Roma menambahkan, Disnakertrans tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga menyiapkan komunitas bagi peserta. Dengan adanya komunitas ini, mereka dapat saling berbagi pengalaman dan informasi seputar peluang kerja.

    “Ke depan akan kami tindaklanjuti dengan membangun komunikasi berkelanjutan. Sama seperti pelatihan menjahit dan pengolahan coklat yang sudah kami lakukan, kami bentuk komunitas agar mereka bisa terus berkembang dan bahkan langsung menerima order dari perusahaan mitra,” ungkapnya.

    Menurut Roma, pemerintah Kutim berkomitmen membuka berbagai sektor lapangan kerja, bukan hanya di pertambangan atau perkebunan, tetapi juga di sektor usaha lain seperti garment dan industri kreatif.

    “Tenaga kerja kita harus siap di semua bidang. Bukan hanya tambang dan kebun, tetapi juga usaha kecil hingga industri garmen. Dengan begitu, kesempatan kerja semakin luas dan perekonomian masyarakat bisa ikut tumbuh,” pungkasnya.(Ciaa/*)