Category: Pemerintahan

  • Penyelewengan Anggaran Rp40,1 Miliar : Pemkab Kutim Tegaskan Hanya Saksi

    Penyelewengan Anggaran Rp40,1 Miliar : Pemkab Kutim Tegaskan Hanya Saksi

    Kutai Timur – Dugaan penyimpangan anggaran dalam pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memasuki babak baru.

    Sejumlah pejabat Pemkab Kutim diperiksa oleh Polda Kalimantan Timur (Kaltim) terkait kasus yang melibatkan anggaran Rp40,1 miliar pada tahun 2024.

    Proses penyidikan ini diperkuat dengan terbitnya Surat Perintah Penyidikan Nomor SP.sidik/S 1.1/151/VI/Res.3.3./2025/Distreskrimsus/Polda Kaltim, tertanggal 23 Juni 2025.

    Kasus ini menjadi sorotan lantaran muncul dugaan adanya permainan dan mark up dalam proyek tersebut. Dari total anggaran, sekitar Rp24,9 miliar dialokasikan untuk pengadaan mesin Rice Processing Unit (RPU).

    Nama Sekretaris Daerah (Sekda) Kutim, Rizali Hadi, serta Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kutim, Ade Achmad Yulkafilah, menjadi perhatian publik setelah disebut ikut diperiksa. Meski demikian, keduanya menegaskan kehadiran mereka hanya sebatas saksi.

    Rizali Hadi menegaskan, pemeriksaan dirinya tidak terkait langsung dengan dugaan penyimpangan, melainkan sebagai bagian dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Ia menekankan bahwa TAPD memiliki peran terbatas hanya pada proses perencanaan dan penganggaran.

    “Kita di TAPD. TAPD itu bukan hanya Sekda dan Kepala BPKAD. Ada juga Kepala Bapenda, Bappeda sebagai wakil ketua, dan lainnya sebagai anggota. Semua dipanggil Polda, termasuk Banggar DPRD lama,” kata Rizali, saat diwawancara, Selasa 2 September 2025

    Menurut Rizali, pihak TAPD hanya memastikan ketersediaan anggaran, bukan ikut campur dalam pelaksanaan kontrak. Ia menegaskan, proses teknis sepenuhnya ada pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

    “Kita, dalam proses penganggaran mulai dari perencanaan sampai penganggaran sudah berjalan sesuai tupoksi masing-masing. Saya hanya mengontrol perencanaannya seperti apa. Dari sisi penganggaran, gimana anggarannya, ada enggak? Oh, ada. Silakan,” tambahnya.

    Rizali pun menyayangkan dirinya bersama Kepala BPKAD justru menjadi sorotan utama publik. Padahal, menurutnya, permasalahan sebenarnya ada di pelaksanaan kontrak yang dijalankan SKPD.

    “Nah, proses yang ada di SKPD inilah yang bermasalah. Tetapi yang ditonjolkan kan Sekda sama Kepala BPKAD. Sementara yang berkasus sendiri itu siapa? Enggak selalu ditonjolkan,” ujarnya dengan nada kecewa.

    Sementara itu, Kepala BPKAD Kutim, Ade Achmad Yulkafilah, menyampaikan hal serupa. Ia menegaskan tidak pernah mengetahui detail teknis terkait proyek RPU. Menurutnya, TAPD hanya berurusan pada aspek ketersediaan anggaran, bukan implementasi.

    “Apalagi di berita hari ini yang saya baca, seolah-olah TAPD yang bermasalah. Coba ditanya dengan pihak pelaksana, kenapa ini bermasalah. Kami di TAPD enggak pernah tahu RPU itu apa. Mau dibangun di mana, mau dibangun apa, itu kami enggak pernah tahu. Kami tahunya hanya kegiatannya untuk kemandirian pangan,” jelas Ade.

    Ia menambahkan, program pembangunan hanya diketahui secara utuh oleh SKPD pelaksana. Menurut Ade, opini publik seolah diarahkan sehingga TAPD dianggap sebagai pelaksana, padahal mereka hanya bagian dari perencanaan.

    “Nah, mereka punya program untuk membangun A, B, C, yang tahu SKPD karena melaksanakan kan mereka. Akhirnya, seolah-olah opini digiring kami yang sebagai pelaksana, padahal enggak begitu. Kami dipanggil sebagai saksi, ya harus datang,” tegasnya.

    Hal senada juga disampaikan Kabag Hukum Pemkab Kutim, Januar Bayu Irawan. Menurutnya, pemanggilan TAPD, Banggar, maupun SKPD adalah hal yang wajar dalam proses penyidikan.

    “Ini murni bagian dari penyidikan. Semua pihak dipanggil, mulai TAPD, Banggar, sampai dinas teknis. Posisi kami adalah mendukung proses hukum. Indikasi masalah itu sebenarnya ada di kontrak pelaksanaan, bukan di TAPD,” kata Januar.

    Ia menekankan, Pemkab Kutim menghormati sepenuhnya proses hukum yang sedang berjalan. Aparatur yang dipanggil wajib hadir sebagai bentuk dukungan terhadap penyidikan yang dilakukan aparat.

    “Kami hadir sebagai saksi, itu hal biasa. Tapi jangan dipelintir seolah-olah kami yang bermain. Justru ini kesempatan bagi kami untuk meluruskan agar publik tidak salah paham,” pungkasnya.

    Kasus dugaan penyimpangan anggaran ketahanan pangan ini masih terus bergulir. Publik kini menunggu langkah selanjutnya dari aparat penegak hukum untuk mengungkap siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas permasalahan proyek RPU senilai miliaran rupiah tersebut.(Ciaa/)

  • DPPKB Kutim Ajak Pakar Pencegahan Stunting pada Anak dengan HIV/AIDS

    DPPKB Kutim Ajak Pakar Pencegahan Stunting pada Anak dengan HIV/AIDS

    Kutai Timur – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bekerja sama dengan para pakar untuk menyosialisasikan pencegahan stunting, terutama pada anak dengan HIV/AIDS.

    Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan bahwa dalam upaya menekan angka stunting, pihaknya juga berfokus pada anak-anak dengan HIV/AIDS karena mereka memiliki risiko stunting yang lebih tinggi.

    “Anak dengan HIV/AIDS lebih berisiko stunting karena penyakit ini melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka,” kata Achmad di Sangatta, Senin (1/9/2025).

    Melalui seminar dan sosialisasi yang melibatkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim, DPPKB menyampaikan pesan penting ini kepada masyarakat.

    Mereka juga memanfaatkan podcast “Bangga Kencana” untuk memberikan ruang bagi para pakar dalam menjelaskan korelasi antara stunting dan HIV/AIDS.

    “Kami melakukan pencegahan melalui berbagai program yang sudah berjalan,” ujarnya.

    Achmad menegaskan, melalui program-program ini, pihaknya berharap masyarakat yang terindikasi HIV/AIDS bersedia melaporkan diri ke fasilitas kesehatan. Dengan begitu, anak-anak yang mereka lahirkan bisa mendapatkan penanganan dini.

    Sementara itu, Tim Pakar IDI Kutim, dr. Meitha Togas, menjelaskan bahwa HIV/AIDS sangat memengaruhi tumbuh kembang anak, sehingga meningkatkan risiko stunting.

    “HIV/AIDS dan stunting itu seperti dua lingkaran setan yang sama-sama menghambat pertumbuhan anak,” ungkapnya.

    Untuk mencegah stunting, anak dengan HIV/AIDS harus mendapatkan penanganan terpadu, seperti pengobatan antiretroviral (ART), manajemen gizi, dan deteksi dini.

    “Yang terpenting adalah kesadaran orang tua untuk melapor lebih dulu, agar anak bisa terdeteksi dan segera ditangani. Ini sangat krusial,” pungkas dr. Meitha.

  • Langkah Awal Menuju Indonesia Emas 2045: Kutim Bangun Dapur Sentra Pangan Berbasis Gizi

    Langkah Awal Menuju Indonesia Emas 2045: Kutim Bangun Dapur Sentra Pangan Berbasis Gizi

    Kutai Timur – Upaya mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045 terus dikuatkan. Salah satunya melalui pembangunan Dapur Sentra Pangan Berbasis Gizi ( SPPG ) di Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang ditargetkan menjadi pusat penyedia pangan bergizi dan sarana pemberdayaan masyarakat lokal.

    Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memastikan anak-anak sekolah di Kutim mendapatkan akses makanan sehat dan bergizi secara berkelanjutan.

    Ketua DPRD Kutim, Jimmi, menyampaikan pembangunan dapur SPPG dinilai membawa dampak positif jangka panjang.

    “Alhamdulillah atas program dari pusat seperti ini. Kita melihat adanya efek vital yang nanti akan berkelanjutan, terutama bagi masyarakat petani. Program ini membuka pasar yang jelas bagi hasil pertanian lokal,” ujar Jimmi.

    Menurut Jimmi, peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari pemenuhan gizi yang baik. Ia pun optimis bahwa pembangunan SPPG dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperluas lapangan kerja di Kutim.
    Ia menjelaskan bahwa sejumlah komoditas seperti padi, semangka, dan kedelai sangat potensial untuk diintegrasikan dalam rantai pasokan pangan di SPPG. Dengan begitu, kata dia, keberadaan fasilitas ini akan menjadi semangat baru untuk memperkuat sektor pertanian lokal.

    “Kita harus sukseskan rantai pasok ini bersama-sama dengan pemerintah daerah. Karena program seperti ini menunjang pembangunan kualitas sumber daya manusia,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, meminta semua pihak dapat memahami serta mendukung penuh pelaksanaan pembangunan SPBG. Bupati juga menyampaikan bahwa program ini adalah bagian dari upaya Indonesia menuju visi besar 2045.

    “20 tahun menuju 2045 bukanlah waktu yang lama. Bonus demografi saat ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Anak-anak kita hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam pembangunan dapur SPBG. Ia menyebut terdapat 42 titik pelaksanaan dapur SPBG di Kutim, di luar wilayah Sangatta.

    “Ini harus menjadi kolaborasi bersama, karena menyangkut masa depan anak-anak kita,” jelasnya.

    Sementara itu, Kapolres Kutim, AKBP Fauzan Ariyanto, menjelaskan bahwa groundbreaking ini merupakan bagian dari agenda nasional yang digagas langsung oleh Presiden RI dan dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia.

    “Alhamdulillah kegiatan groundbreaking ini dilaksanakan serentak dan tadi juga langsung dipimpin oleh Bapak Irwasum Polri dari Malang. Secara nasional, ada 205 dapur SPPG yang mulai dioperasionalkan, termasuk di Kutai Timur,” ungkapnya.

    Ia mengatakan, kegiatan ini juga dibarengi dengan penanaman komoditas jagung sebagai bentuk dukungan Polri terhadap program ketahanan pangan nasional.

    Di Kutim sendiri, pelaksanaan SPPG melibatkan kerja sama lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, TNI, hingga para pemangku kepentingan lainnya.

  • Dua ASN Kutim Paparkan Proyek Strategis dalam Seminar PKN Eselon III

    Dua ASN Kutim Paparkan Proyek Strategis dalam Seminar PKN Eselon III

    Kutai Timur – Dua Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tampil dalam seminar proyek perubahan yang merupakan bagian dari Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat III. Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam promosi jabatan serta pengembangan kompetensi ASN.

    Kegiatan seminar berlangsung lancar dan sukses. Hal itu disampaikan langsung oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Kutim, Zubair, yang hadir sebagai mentor dalam kegiatan tersebut.

    Zubair menyampaikan, dua ASN yang mewakili Kutim adalah Rian dari Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), serta Sugiyo yang mengangkat isu pengelolaan sampah secara terpadu dari hulu ke hilir.

    “Pak Rian mengusung sistem aplikasi pengadaan yang telah terdaftar secara nasional. Gagasan ini bertujuan mempercepat dan menyederhanakan proses pengadaan di lingkungan Pemkab Kutim,” ungkap Zubair saat dikonfirmasi, Sabtu (2/8/2025).

    Menurutnya, sistem yang ditawarkan Rian memungkinkan integrasi berbagai prosedur pengadaan ke dalam satu platform digital yang lebih efisien dan transparan. Hal ini dinilai dapat memperbaiki sistem layanan publik, khususnya di sektor pengadaan.

    Sementara itu, Sugiyo memfokuskan proyek perubahannya pada isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah dari sumbernya. Konsep yang ia usung melibatkan pendekatan terpadu mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan akhir.

    “Gagasan Sugiyo sangat aplikatif dan solutif. Ia juga mendapat apresiasi dari para penguji karena mampu menyampaikan materinya secara padat, jelas, dan langsung pada inti permasalahan,” ujar Zubair.

    Ia menambahkan, seminar proyek perubahan bukan hanya forum presentasi gagasan, tetapi merupakan komponen utama dari upaya peningkatan kapasitas ASN. Proyek-proyek yang diajukan diharapkan dapat diimplementasikan di unit kerja masing-masing.

    “Diklat ini bukan sekadar pelatihan, tapi merupakan bagian dari capacity building ASN yang berkelanjutan. Selain sebagai syarat administratif untuk promosi jabatan, ini juga bertujuan menciptakan inovasi birokrasi yang berdampak nyata,” jelasnya.

    Zubair menilai, baik gagasan dari Rian maupun Sugiyo memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan daerah. Sistem pengadaan terintegrasi yang diusulkan, misalnya, akan mempermudah proses pengadaan barang dan jasa tanpa mengorbankan prinsip akuntabilitas.

    Sementara itu, proyek pengelolaan sampah secara menyeluruh dinilai sangat relevan dengan isu lingkungan di Kutim yang saat ini menjadi perhatian serius. Pengelolaan dari hulu ke hilir disebut penting agar sampah tidak hanya dipindahkan, tapi benar-benar dikelola secara tuntas.

    “Kalau tidak dikelola secara menyeluruh, sampah bisa menjadi sumber masalah baru di masyarakat. Karena itu, pendekatan berkelanjutan seperti yang disampaikan Sugiyo sangat dibutuhkan,” imbuhnya.

    Kehadiran dua ASN Kutim di seminar tersebut juga menunjukkan keseriusan Pemkab dalam mendorong lahirnya inovasi dari dalam birokrasi. Zubair berharap, hasil dari proyek perubahan ini tidak berhenti sebagai wacana, tapi benar-benar diimplementasikan.

    Ia juga menyampaikan bahwa Pemkab Kutim akan terus mendukung pengembangan sumber daya manusia, terutama ASN, agar mampu merespons tantangan pemerintahan dan pelayanan publik secara adaptif dan inovatif.

    “ASN kita harus terus berkembang. Pelatihan seperti ini penting agar birokrasi tidak stagnan dan bisa memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (Cia/*)

  • Kapolres Kutim Silaturahmi Ke Bupati, Perkuat Sinergitas Jaga Kamtibmas

    Kapolres Kutim Silaturahmi Ke Bupati, Perkuat Sinergitas Jaga Kamtibmas

    Kutai Timur – Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H didampingi para Pejabat Utama Polres Kutai Timur melaksanakan kunjungan silaturahmi ke Kantor Bupati Kutai Timur, Kamis (17/7/2025).

    Kunjungan ini disambut langsung oleh Bupati Kutai Timur Drs. H. Ardiansyah Sulaiman, M.Si Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H menuturkan silaturahmi ini merupakan langkah awal sebagai bentuk perkenalan.

    “Karena saya baru di Kutai Timur hal ini sebagai upaya pengenalan sekaligus mohon doa dan dukungan demi kepentingan yang lebih luas bagi masyarakat Kutai Timur. Melalui silaturahmi ini, kami berharap terjalin komunikasi yang baik dan solid antara Polres Kutai Timur dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, demi menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif dan masyarakat yang semakin sejahtera,” kata Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H

    Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan dan meningkatkan program-program keamanan yang telah berjalan guna menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di wilayah Kutai Timur. Ia berharap sinergi dengan seluruh elemen masyarakat dapat terjalin optimal.

    Sementara itu, Bupati Kutai Timur Drs. H. Ardiansyah Sulaiman, M.Si menyambut baik kunjungan Kapolres baru dan berharap soliditas Forkopimda dapat semakin diperkuat. Bupati juga menegaskan dukungan penuh Pemerintah Kabupaten terhadap program Polres dalam menjaga stabilitas keamanan, yang menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan pembangunan daerah.

    Kunjungan silaturahmi ini menandai awal kolaborasi erat antara Pemkab dan Polres Kutai Timur yang diharapkan dapat menciptakan iklim pembangunan yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Kehadiran Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto, S.H., S.I.K., M.H diharapkan membawa energi baru dan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian yang lebih humanis dan kolaboratif.

    HUMAS POLRES KUTIM

  • Dinsos Kutai Timur Klarifikasi Dugaan Penelantaran ODGJ: “Ini Bukan Kelalaian Institusi”

    Dinsos Kutai Timur Klarifikasi Dugaan Penelantaran ODGJ: “Ini Bukan Kelalaian Institusi”

    Kutai Timur – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kutai Timur memberikan klarifikasi terkait dugaan penelantaran seorang pria dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang sempat viral di media sosial pada awal pekan ini.

    Kepala Dinas Sosial Kutai Timur, Ernata, dalam konferensi pers pada Kamis (22/5/2025), menjelaskan bahwa insiden yang terjadi pada Senin (20/5/2025) bukan disebabkan oleh kelalaian institusi, melainkan karena kendala teknis di lapangan.

    Menurut Ernata, pria ODGJ berusia sekitar 50 tahun tersebut awalnya dibawa dari Puskesmas Bengalon ke kantor Dinsos pada siang hari. Namun, saat ia kembali dari kegiatan luar sekitar pukul 16.30 WITA, ia mendapati petugas dari bidang Rehabilitasi Sosial tidak berada di tempat.

    “Saya langsung mengambil tindakan. Ini manusia, bukan barang,” ujar Ernata tegas. Ia kemudian menghubungi Satpol PP untuk membawa ODGJ tersebut ke RSUD Kudungga Sangatta.

    Ernata menekankan bahwa penanganan ODGJ melibatkan koordinasi tiga instansi, yakni Satpol PP untuk pengamanan, Dinas Kesehatan untuk tindakan medis, dan Dinas Sosial untuk aspek sosial dan administratif, seperti pengurusan identitas, BPJS, serta rujukan.

    “Kami sudah menangani ODGJ selama enam tahun tanpa masalah. Ini murni kelalaian individu, bukan kesalahan sistem. Pejabat terkait sudah dievaluasi dan menyampaikan permintaan maaf,” ungkap Ernata, yang memiliki latar belakang pendidikan Pekerja Sosial hingga jenjang doktoral.

    Staf Dinsos, Miluwati, menambahkan bahwa pasien sempat diberikan obat penenang dan sedang menunggu keluarganya. Setelah dilakukan pendekatan oleh Kadis, pasien akhirnya bersedia dibawa ke rumah sakit. Proses administrasi sempat mengalami hambatan karena ketiadaan identitas, namun pihak Satpol PP berhasil menghubungi keluarganya melalui media sosial.

    Sementara itu, Agus Budi, mantan Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial, menyatakan bahwa pasien tidak benar-benar terlantar. “Penanganan dilakukan pada sore harinya, termasuk pemberian makan dan minum. Mungkin informasi yang beredar diambil sebelum proses itu berjalan,” jelasnya.

    Menutup konferensi pers, Ernata berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama. Ia menegaskan pentingnya aparatur sosial memiliki empati dan jiwa melayani.

    “Kritik yang membangun kami apresiasi. Ini menjadi cambuk untuk meningkatkan pelayanan kami ke depan,” pungkasnya.

  • Pemkab Kutim Gencarkan Pembentukan Koperasi Merah Putih, Anggaran Rp352 Juta Disiapkan

    Pemkab Kutim Gencarkan Pembentukan Koperasi Merah Putih, Anggaran Rp352 Juta Disiapkan

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus menggenjot pembentukan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di seluruh desa dan kelurahan sebagai bagian dari program strategis nasional. Langkah ini ditandai dengan digelarnya rapat koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membahas rencana pembentukan koperasi di 141 wilayah, terdiri dari 139 desa dan 2 kelurahan.

    Kepala Bagian Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Kutim, Trisno, mengatakan bahwa pemerintah daerah akan memfasilitasi seluruh proses pembentukan Kopdes Merah Putih, mulai dari sosialisasi hingga pelaporan ke tingkat provinsi dan pusat.

    “Program ini bagian dari amanat pusat, dan kami di daerah siap mendukung penuh. Kami telah menyusun rencana kerja strategis bersama OPD terkait,” ujar Trisno, Senin (19/5).

    Dalam mendukung proses legalitas dan pembentukan badan hukum koperasi, Pemkab Kutim melalui Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) telah menyiapkan anggaran sebesar Rp352.500.000. Anggaran ini akan digunakan untuk biaya pembuatan akta notaris, dengan alokasi Rp2.500.000 untuk setiap desa dan kelurahan.

    Trisno menegaskan bahwa pembentukan seluruh koperasi ditargetkan berlangsung serentak pada 12 Juni 2025, melalui musyawarah di masing-masing desa dan kelurahan. Sebelum tanggal tersebut, Pemkab akan melakukan koordinasi intensif dengan seluruh camat dan kepala desa guna memastikan kesiapan di lapangan.

    “Kami ingin pelaksanaan program ini berjalan lancar, akuntabel, dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat desa,” tutup Trisno.

    Pembentukan Kopdes Merah Putih ini diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang mampu meningkatkan kemandirian dan daya saing desa di Kutai Timur.(Ciaa)

  • Wujudkan Lingkungan Aman untuk Anak, Kemen PPPA dan PT KPC Resmikan Taman Bermain

    Wujudkan Lingkungan Aman untuk Anak, Kemen PPPA dan PT KPC Resmikan Taman Bermain

    Kutai Timur – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meresmikan ruang bermain ramah anak yang berlokasi di kawasan Townhall PT Kaltim Prima Coal (KPC), Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Selasa (tanggal peresmian).

    Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri PPPA Arifah Fauzi. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak, khususnya menuju target nasional Indonesia Emas 2045.

    “Sebagaimana amanat Bapak Presiden, kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan seperti PT KPC, sangat penting dalam mewujudkan daerah layak anak,” ujar Arifah.

    Menurutnya, pembangunan ruang bermain ini merupakan langkah konkret dalam menciptakan ruang-ruang inklusif bagi anak-anak, yang tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga menjamin keamanan dan kenyamanan mereka.

    Arifah juga mengapresiasi fasilitas yang disediakan oleh PT KPC, yang dinilainya telah melampaui standar ruang bermain anak yang ditetapkan oleh kementerian.

    “Menurut saya fasilitasnya sangat baik, bahkan melebihi ekspektasi saya. Ini menunjukkan bahwa PT KPC memiliki perhatian besar terhadap pembangunan generasi masa depan,” tambahnya.

    Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) PT KPC, Hendro Ichwanto, menyatakan bahwa pembangunan taman bermain ramah anak merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial di Kutai Timur.

    “Kami memastikan taman bermain ini aman dari aktivitas lalu lintas dan sesuai standar Kemen PPPA. Ini menjadi bagian dari komitmen kami mewujudkan rumah bersama yang layak bagi anak-anak Indonesia,” ucap Hendro.

    Ia juga menyatakan kesiapan PT KPC untuk terus berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam mewujudkan kabupaten layak anak, tidak hanya di lingkungan perusahaan, tetapi juga di masyarakat sekitar.

    “Mudah-mudahan kami bisa terus berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak di Kutai Timur,” tutupnya.(C)