Blog

  • Pemkab Kutim Dorong Transformasi Ekonomi Melalui Penguatan Sektor Pertanian

    Pemkab Kutim Dorong Transformasi Ekonomi Melalui Penguatan Sektor Pertanian

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menilai ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari peran sektor pertanian yang selama ini menjadi fondasi pembangunan daerah. Meski kontribusinya terhadap perekonomian masih di bawah sektor pertambangan, pemerintah daerah terus berupaya mendorong transformasi besar di bidang pertanian untuk memperkuat kemandirian pangan.Di tengah dominasi sumber daya alam tak terbarukan seperti batubara dan minyak bumi, Pemkab Kutim berkomitmen melakukan perubahan struktur ekonomi menuju sektor yang berkelanjutan. Transformasi ini mencakup penguatan produksi pangan pokok, pengembangan hortikultura, hingga hilirisasi hasil pertanian agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi petani.

    Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kutim, Wahyudi Noor, mengatakan arah pembangunan pertanian tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar seperti padi, tetapi juga mendorong diversifikasi komoditas dengan memperkuat nilai tambah melalui hilirisasi.“Kalau kita memenuhi ketahanan pangan, pasti pangan utama itu padi. ​​Secara bertahap kita akan memenuhinya. Tapi yang ada sudah menjadi unggulan nasional, salah satunya adalah pisang kepok grecek,” jelas Wahyudi,Sabtu (8/11/2025)

    Ia menegaskan, transformasi ekonomi berbasis pertanian ini harus dilakukan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kutim. Pemerintah daerah, kata dia, tidak ingin sektor pertanian berhenti hanya sebagai penyedia bahan mentah, melainkan berkembang ke tahap pengolahan yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.“Mudah-mudah sesuai dengan RPJP Kutai Timur, kita sudah melakukan transformasi ekonomi sekaligus transformasi hilirisasi. Jadi nanti kita tidak hanya menjual pisang atau produk apapun dalam bentuk buah segar, tapi juga produk turunannya,” tambahnya.

    Menurut Wahyudi, sektor pertanian selalu menjadi prioritas sejak awal berdirinya Kutai Timur. Dari program Gerakan Daerah (Gerda) Bank Agri hingga visi Kutim Hebat saat ini, pertanian tetap ditempatkan sebagai sektor unggulan yang menopang arah pembangunan jangka panjang.“Dari awal Kutim berdiri, RPJM Kepala Daerah tidak pernah meninggalkan sektor pertanian. Mulai dari Gerda Bank Agri sampai sekarang Kutim Hebat, sektor unggulan di dekatnya pasti pertanian,” ujarnya.

    Ia menilai, konsistensi pembangunan ini hanya dapat berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat. Pertanian, katanya, bukan hanya tentang produksi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan petani dan kesadaran masyarakat akan pentingnya sektor ini sebagai penopang perekonomian berkelanjutan.“Ini bentuk kolaborasi pemerintah dengan komitmen legislatif melalui RPJPD dan RPJMD. Jadi arah pembangunan kita sudah jelas, pertanian menjadi sektor yang terus diperkuat,” tutupnya.(Adv/Kominfo)

  • Padi Apung Jadi Solusi Pertanian di Lahan Rawa dan Tergenang

    Padi Apung Jadi Solusi Pertanian di Lahan Rawa dan Tergenang

    Kutai Timur – Teknologi padi apung kini mulai diperkenalkan sebagai solusi alternatif untuk petani di wilayah Kutai Timur yang memiliki lahan berair dan sulit dicetak menjadi sawah konvensional.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, mengatakan bahwa teknologi ini menjadi jawaban bagi petani di daerah rawan banjir agar tetap bisa menanam padi.“Padi apung ini bisa menjadi alternatif bagi petani yang berada di wilayah rawa atau tergenang,” ujarnya,Sabtu (8/11/2025)

    Menurutnya, perbedaan utama padi apung dengan padi biasa hanya pada media tanamnya yang dibuat terapung di atas air.“Teknologinya sederhana tapi efektif. Bedanya hanya di media tanamnya saja yang mengapung di permukaan air,” jelasnya.

    Dessy menuturkan, padi apung cocok diterapkan di Kutai Timur karena sebagian wilayahnya memiliki topografi dataran rendah yang sering digenangi air saat musim hujan.“Kalau petani menunggu lahan kering, mereka akan kehilangan waktu tanam. Dengan teknologi ini, mereka bisa tetap berproduksi,” ungkapnya.

    Selain menghemat waktu, metode ini juga membantu menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan iklim yang tidak menentu.“Kami ingin teknologi ini bisa membantu petani yang lahannya sulit diolah menjadi sawah biasa,” tambah Dessy.

    Ia menjelaskan bahwa DTPHP akan terus memberikan edukasi dan sosialisasi kepada kelompok tani agar bisa memahami cara penerapannya.“Sekarang masih tahap perkenalan, nanti setelah petani siap kami akan dampingi secara teknis,” katanya.

    Dessy berharap, dengan adopsi teknologi ini, petani Kutim bisa semakin mandiri dan adaptif terhadap kondisi alam daerahnya.(Adv/Kominfo)

  • DLH Kutim Ingatkan: Buang Sampah Sembarangan Bisa Didenda Rp50 Juta

    DLH Kutim Ingatkan: Buang Sampah Sembarangan Bisa Didenda Rp50 Juta

    Kutai Timur – Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur (DLH) menegaskan akan menegakkan aturan bagi masyarakat yang membuang sampah tidak sesuai waktu atau tempat yang telah ditentukan.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah, Dewi Dohi, menyampaikan bahwa dalam Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Sampah telah diatur sanksi tegas bagi pelanggar.

    “Buang sampah sembarangan atau di luar waktu yang diperbolehkan bisa dikenakan sanksi denda maksimal Rp50 juta atau kurungan penjara,” jelasnya, Sabtu (8/11/2025).

    Ia menegaskan, penerapan sanksi ini bukan semata-mata untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menumbuhkan disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

    “Kami ingin masyarakat sampah sadar bahwa adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada alasan untuk membuang seenaknya,” ujarnya.

    DLH Kutim terus melakukan sosialisasi agar warga memahami waktu pembuangan sampah yang diizinkan, yakni pukul 18.00 sampai 06.00 pagi.
    Selain waktu, masyarakat juga diimbau membuang sampah di tempat yang telah disediakan, bukan di bahu jalan atau selokan.

    “Masih ada kebiasaan warga yang membuang di pinggir jalan karena merasa praktis. Padahal itu mengatur dan merusak keindahan kota,” katanya.

    Pihaknya berharap penerapan sanksi dapat mendorong perubahan perilaku menuju masyarakat yang lebih tertib dan peduli lingkungan.

    “Kalau sudah tahu aturannya, harusnya bisa disiplin. Kita semua ingin Sangatta dan Kutim ini bersih dan nyaman,” tambahnya.

    Dewi juga mengingatkan bahwa setiap warga memiliki kewajiban memilah dan mengelola sampah dari rumah tangga masing-masing sebelum dibuang ke TPS.

    “Buang sampah sesuai waktu, tempat, dan jenisnya, itu bentuk tanggung jawab sosial,” tuturnya.(Adv/Kominfo).

  • Ketua DPRD Kutim Buka Peluang Pinjaman Daerah hingga Rp2,5 Triliun

    Ketua DPRD Kutim Buka Peluang Pinjaman Daerah hingga Rp2,5 Triliun

    Kutai Timur – Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, mengungkapkan adanya peluang bagi pemerintah daerah untuk melakukan pinjaman ke pemerintah pusat sebagai upaya memperkuat pembiayaan pembangunan daerah. Wacana tersebut muncul seiring menurunnya Dana Bagi Hasil (DBH) yang berdampak pada kemampuan fiskal daerah.

    “Pemerintah pusat saat ini membuka peluang bagi daerah untuk melakukan pinjaman langsung ke pusat,” ujar Jimmi,Sabtu (8/11/2025)

    Ia menjelaskan, potensi pinjaman yang dapat diambil Kutim cukup besar. Berdasarkan hasil komunikasi dengan Direktorat Jenderal Keuangan Daerah, pemerintah daerah masih memiliki potensi “kurang bayar” dan “kurang salur” yang bisa dijadikan jaminan pinjaman.

    “Kami mendapat penjelasan bahwa potensi kurang bayar kita masih lebih dari Rp1 triliun. Jadi pinjaman bisa mencapai 2,5 kali lipat atau sekitar Rp2,5 triliun,” ungkapnya.

    Menurut Jimmi, wacana pinjaman ini harus dibahas secara mendalam antara DPRD dan pemerintah daerah agar tidak menimbulkan beban keuangan di masa depan.

    “Kemampuan membayar kembali harus benar-benar dihitung dengan cermat,” tegasnya.

    Ia menambahkan, pinjaman ini idealnya digunakan untuk membiayai proyek produktif, bukan untuk belanja rutin. “Kalau dipakai untuk pembangunan infrastruktur yang bisa menumbuhkan ekonomi, itu sangat baik,” katanya.

    Jimmi juga menyebut pemerintah pusat mendorong daerah agar lebih aktif memanfaatkan fasilitas keuangan untuk mempercepat pembangunan. “Pemerintah pusat ingin daerah lebih mandiri secara fiskal dan tidak hanya bergantung pada transfer dana,” jelasnya.

    Namun ia mengingatkan, mekanisme dan validasi keuangan daerah tetap menjadi faktor utama yang harus disetujui oleh Kementerian Keuangan. “Semuanya tergantung pada hasil validasi potensi finansial daerah kita,” ucapnya.

    Menurut Jimmi, langkah ini bisa menjadi peluang strategis jika dikelola secara hati-hati dan transparan. “Kalau digunakan secara bijak, pinjaman daerah justru bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Kutim,” tutupnya.(Adv/DPRD)

  • DLH Kutim Gencarkan Sosialisasi Jam Buang Sampah

    DLH Kutim Gencarkan Sosialisasi Jam Buang Sampah

    Kutai Timur – Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait waktu pembuangan sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur berencana melakukan sosialisasi melalui tempat-tempat ibadah.

    Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah, Dewi Dohi, mengatakan bahwa masih banyak warga yang belum memahami aturan waktu pembuangan sampah sebagaimana diatur dalam Perda, yaitu mulai pukul 18.00 hingga 06.00 pagi.

    “Sering kali masyarakat membuang sampah di luar jam yang diperbolehkan. Jadi, kami akan melakukan pendekatan yang lebih langsung, salah satunya lewat tempat ibadah,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).

    Menurutnya, tempat ibadah memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi. Pihaknya akan memanfaatkan momen menjelang azan, sebelum salat Jumat, dan selepas salat Subuh untuk menyampaikan imbauan.

    “Kami menilai tempat ibadah sangat efektif, karena masyarakat berkumpul di sana dan pesannya bisa langsung diterima,” jelas Dewi.

    Langkah ini juga merupakan upaya mempercepat penyebarluasan informasi tanpa hanya mengandalkan surat edaran yang kadang berhenti di tingkat RT.

    “Kadang surat sudah kami sebarkan, tapi tidak diteruskan ke warga. Dengan pengumuman langsung lewat masjid dan gereja, informasi bisa lebih cepat sampai,” tambahnya.

    DLH juga berencana bekerja sama dengan para tokoh agama dan lembaga keagamaan agar pesan kebersihan menjadi bagian dari edukasi moral.
    “Menjaga kebersihan itu bagian dari ibadah. Jadi, kami ingin pesan itu hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Sosialisasi ini sekaligus menegaskan komitmen DLH dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas sampah.

    Selain edukasi, DLH juga akan menertibkan lokasi pembuangan pembohong yang masih ditemukan di beberapa titik di Sangatta. Pengawasan akan dilakukan secara rutin bersama petugas lapangan.

    “Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab bersama. Kami ingin membangun budaya tertib buang sampah,” tegas Dewi.(Adv/Kominfo)

  • Sayyid Anjas : Dukung Pengurangan Perjalanan Dinas dan Evaluasi Proyek Multi Years 2026

    Sayyid Anjas : Dukung Pengurangan Perjalanan Dinas dan Evaluasi Proyek Multi Years 2026

    Kutai Timur – Wakil Ketua I DPRD Kutai Timur, Sayyid Anjas, menilai langkah pemerintah untuk menyesuaikan belanja rutin, termasuk perjalanan dinas dan anggaran pegawai, merupakan langkah tepat di tengah menurunnya kemampuan keuangan daerah.

    Menurut Anjas, pengurangan aktivitas perjalanan dinas bukan berarti harus dihapus sepenuhnya. “Perjalanan dinas dikurangi, bukan dihilangkan. Yang tadinya tiga atau empat kali, bisa saja cukup satu atau dua kali,” katanya, Sabtu (8/11/2025).

    Ia menambahkan, kebijakan efisiensi ini harus diterapkan secara proporsional agar tidak mengganggu kinerja ASN. “Yang penting-penting dulu saja yang dijalankan. Kita harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada,” ujarnya.

    Terkait dengan kewajiban belanja mandatori sebesar 30 persen untuk pegawai, Anjas memastikan hal tersebut tetap menjadi prioritas. “Itu pasti disesuaikan. Tidak mungkin dibayar kalau kemampuan keuangannya tidak cukup,” tegasnya.

    Ia juga menyoroti rencana pemerintah untuk melanjutkan proyek-proyek multi years (tahun jamak) pada tahun 2026. Menurutnya, proyek tersebut masih bisa dilaksanakan asalkan dilakukan perhitungan ulang yang realistis. “Saya rasa kalau nanti dihitung ulang dan dirampingkan, proyek multi years masih bisa dilakukan,” tuturnya.

    Sayyid Anjas, menyebutkan bahwa penyesuaian proyek tersebut adalah hal yang wajar. “Kalau awalnya direncanakan 10 proyek, mungkin nanti cukup 5 atau 6 saja. Itu hal yang logis dan lebih aman,” ujarnya lagi.

    Ia menilai langkah tersebut akan membantu pemerintah menjaga keseimbangan keuangan tanpa mengorbankan pembangunan. “Yang penting proyeknya tetap berjalan, tapi dengan perencanaan yang matang dan efisiensi yang jelas,” katanya.
    Meski begitu, Anjas mengingatkan bahwa rencana proyek multi years 2026 masih belum diajukan ke DPRD. “Kita tunggu saja dulu karena belum masuk pembahasannya di DPR,” ungkapnya.

    Ia berharap pemerintah daerah dapat menyusun perhitungan yang akurat sebelum mengajukan program tersebut. “Semua harus dihitung dengan cermat supaya tidak membebani APBD,” ujarnya.(Adv/DPDR)

  • Dinas Perkebunan Kutim Dorong Olahan Gula Aren Jadi Produk Unggulan Desa

    Dinas Perkebunan Kutim Dorong Olahan Gula Aren Jadi Produk Unggulan Desa

    Kutai Timur – Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur terus mendorong lahirnya produk unggulan daerah berbasis hasil perkebunan rakyat. Salah satunya melalui pelatihan petani aren agar mampu mengolah nira menjadi gula aren dan produk turunannya yang bernilai tinggi.

    Kabid Usaha, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Kutim, Aminudin Azis, menyebutkan, selama ini potensi aren di Kutai Timur cukup besar dan tersebar di beberapa kecamatan. Namun banyak petani yang masih menjual dalam bentuk bahan mentah tanpa diolah lebih lanjut.“Kami ingin petani tidak hanya berhenti memproduksi nira. Tapi bisa mengolahnya menjadi gula aren, gula semut, bahkan produk campuran minuman instan berbasis aren,” ungkap Aminudin, Sabtu (8/11/2025).

    Ia mencontohkan, beberapa desa yang sudah mendapat pendampingan teknis seperti Desa Maruko Nalon dan Desa Prikambang di Kecamatan Sangkulirang. Di wilayah itu, petani mulai belajar mengolah nira menjadi produk jadi dengan peralatan sederhana namun higienis.“Bantuan teknis yang kami berikan meliputi cara pengolahan yang baik, pengemasan, serta peningkatan kualitas produk agar lebih diterima pasar,” jelasnya.

    Selain aspek produksi, Dinas juga memberi perhatian pada pemasaran. Aminudin mengatakan, pihaknya terus membuka peluang promosi dan mempertemukan produk petani dengan calon pembeli.“Dari sisi pemasaran, kami bantu promosi. Kita mendorong agar produk gula semut Kutim bisa dikenal lebih luas, terutama di toko-toko lokal maupun marketplace,” tambahnya.

    Ia menyebut, tren minuman sehat berbasis gula aren semakin digemari. Oleh karena itu, Kutai Timur dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan pendapatan petani desa.“Kalau petani bisa olah dengan baik dan punya jaringan pasar, hasilnya akan jauh lebih menguntungkan,” tuturnya.

    Aminudin menegaskan, pengolahan bukan sekadar soal produksi, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan.“Semangat kita satu: dari desa, untuk desa, tapi bernilai nasional,” tutupnya.(Adv/Kominfo)

  • Ketua DPRD Kutim Dorong Pengembangan Sektor Pariwisata Lokal

    Ketua DPRD Kutim Dorong Pengembangan Sektor Pariwisata Lokal

    Kutai Timur – Ketua DPRD Kutai Timur, Jimmi, menilai sektor pariwisata dapat menjadi salah satu motor penggerak baru ekonomi daerah di tengah menurunnya pendapatan dari sektor lain. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius mengembangkan potensi wisata alam yang tersebar di berbagai kecamatan.

    “Pariwisata lokal bisa jadi peluang besar untuk menambah PAD, asal dikelola dengan baik,” ujar Jimmi,Sabtu (8/11/2025)

    Ia mencontohkan potensi wisata alam seperti pantai dan hutan yang bisa dikembangkan menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
    Menurutnya, pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur pendukung agar destinasi wisata lebih mudah diakses masyarakat.

    “Fasilitas seperti jalan, penerangan, dan tempat hiburan harus disiapkan supaya wisatawan tertarik datang,” katanya.

    Selain pembangunan fisik, promosi dan inovasi digital juga penting untuk memperkenalkan pariwisata Kutim ke tingkat nasional.

    “Sekarang eranya digital. Kalau promosi wisata kita masih konvensional, sulit bersaing dengan daerah lain,” ungkapnya.

    Jimmi menyebut, Kutim memiliki dua potensi wisata utama yakni Taman Nasional Kutai (TNK) dan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, namun perlu pengelolaan yang berkelanjutan. “Kita ingin dua kawasan ini menjadi ikon wisata Kutai Timur,” ujarnya.

    Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat sekitar objek wisata harus ditingkatkan agar mereka ikut mendapatkan manfaat ekonomi. “Kalau masyarakat sekitar ikut dilibatkan, mereka akan menjaga kelestarian dan sekaligus memperoleh pendapatan,” tuturnya.

    Selain itu, DPRD juga mendorong agar sektor pariwisata masuk dalam prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). “Kita ingin pariwisata tidak hanya jadi wacana, tapi program nyata dalam perencanaan daerah,” jelasnya.

    Menurut Jimmi, kerja sama lintas sektor dan dukungan dari pihak swasta juga dibutuhkan untuk memajukan pariwisata daerah. “Keterlibatan dunia usaha penting agar pembangunan wisata lebih cepat berkembang,” katanya.

    Ia berharap, sektor pariwisata dapat menjadi salah satu tulang punggung ekonomi baru Kutai Timur di masa depan. “Kalau wisata tumbuh, ekonomi rakyat ikut bergerak. Ini arah yang harus kita kejar bersama,” pungkasnya.(Adv/DPRD)

  • Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Rumah Ibadah di Kutim Jadi Sarana Edukasi Ramah Anak

    Kutai Timur – Tidak hanya sekolah, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kutai Timur kini memperluas kegiatan edukasi hingga ke rumah ibadah.

    Program Rumah Ibadah Ramah Anak ini diinisiasi untuk menciptakan tempat beribadah yang juga aman dan nyaman bagi anak-anak.

    Kabid Pemenuhan Hak Anak DP3A Kutim, Rita Winarni, Menyebutkan kegiatan sosialisasi ini dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat dan pengelola tempat ibadah.

    “Beberapa waktu lalu kami mengundang pihak gereja untuk memberikan sosialisasi tentang rumah ibadah ramah anak. Mereka sangat antusias,” ungkap Rita,saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (7/11/2025).

    Menurutnya, rumah ibadah memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, edukasi ramah anak perlu dilakukan di semua lingkungan, termasuk tempat ibadah.

    “Lingkungan ibadah adalah tempat yang berpengaruh bagi anak, jadi harus menjadi ruang yang aman dan mendidik,” jelasnya.

    Selain gereja, DP3A juga siap memberikan pendampingan ke masjid, pura, atau tempat ibadah lain yang ingin menerapkan konsep serupa.

    “Kami terbuka untuk semua pihak. Selama tujuannya sama, yaitu melindungi anak, kami siap mendukung,” ujar Rita.

    Program ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DP3A dalam memperkuat hak anak di Kutai Timur. Tidak hanya pada sektor formal seperti pendidikan dan kesehatan, tetapi juga pada aspek spiritual dan sosial.

    Harapannya, di mana pun anak berada, mereka merasa aman, dihargai, dan dilindungi, tutup Rita.(Adv/Kominfo)

  • Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Wayang Orang Panorama Swarga Bara, Paduan Seni dan Ekonomi Kreatif

    Kutai Timur – Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, terus berinovasi dalam mengembangkan potensi seni dan ekonomi kreatif. Salah satu yang menjadi sorotan adalah kegiatan wayang orang yang digelar di kawasan Panorama, menjadi perpaduan antara seni, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.

    Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengatakan, kegiatan wayang orang ini tidak sekadar hiburan. Ia menyebut, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM dan perajin batik untuk memamerkan karya mereka.

    “Wayang orang di Panorama ini bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan hasil kreasinya,” ungkap Wahyuddin, Jumat (7/11/2025).

    Ia menjelaskan, pertunjukan ini diadakan secara berkala dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan wisatawan lokal. Momen itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan batik khas Swarga Bara.

    “Setiap pementasan, kita libatkan warga yang punya usaha kecil, mulai dari kuliner hingga batik. Jadi ekonomi berputar sekaligus budaya kita hidup,” ujarnya.

    Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan ini mempererat kebersamaan masyarakat desa. Pemerintah desa pun terus memberikan dukungan melalui dana kegiatan dan pembinaan generasi muda.

    “Anak-anak muda kita arahkan agar ikut aktif di kegiatan budaya seperti ini, supaya mereka bangga dengan identitas desanya sendiri,” tutur Wahyuddin.

    Ia berharap, kegiatan seni seperti wayang orang dapat menjadi ciri khas Swarga Bara ke depan. Pemerintah desa juga berencana menggandeng pihak ketiga untuk membantu promosi wisata budaya desa.(Adv/Kominfo)