Blog

  • DPRD Kutim Soroti Kesiapsiagaan Bencana, Minta Sinergi BPBD dan Edukasi Dini

    DPRD Kutim Soroti Kesiapsiagaan Bencana, Minta Sinergi BPBD dan Edukasi Dini

    Kutai Timur – Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Kutai Timur, Eddy Markus Palinggi, mendesak penguatan mitigasi dan edukasi kebencanaan di daerah untuk memastikan kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat menghadapi potensi bencana alam. Desakan ini disampaikan dalam pertemuan yang membahas kesiapsiagaan daerah pada 16 November 2025.

    Politisi Partai NasDem tersebut menyoroti beberapa aspek krusial yang harus ditingkatkan, meliputi kesiapan personel, sarana prasarana, dan pemetaan bencana yang lebih akurat. “Kita perlu memastikan bahwa saat bencana datang, masyarakat bisa merasakan kehadiran pemerintah. Tindakan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana kita bisa mengantisipasi bencana secara dini untuk meminimalisir jumlah korban menjadi fokus utama kita,” ungkap Eddy.

    Eddy Palinggi menekankan bahwa meskipun mitigasi telah dilakukan, beberapa area memerlukan perhatian khusus. Pemetaan Risiko: “Di Sangatta Selatan dan Rantau Pulung, misalnya, musim kemarau dan banjir adalah dua jenis bencana yang memerlukan penanganan serius,” jelasnya.

    Penguatan Jaringan: Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dengan berbagai kelompok sukarelawan. “Membangun jaringan dengan kelompok sukarelawan sangat penting untuk mempercepat penanganan bencana,” tambahnya.

    Aspek lain yang ditekankan adalah urgensi edukasi kebencanaan bagi siswa dari tingkat dasar hingga menengah atas. “Sangat penting bagi anak-anak untuk memahami dan dapat bersiap saat ada bencana alam. Edukasi ini akan membantu mereka mengambil tindakan yang tepat saat bencana terjadi,” ujar Eddy.

    Sebelumnya, BPBD Kabupaten Kutai Timur telah menetapkan sembilan kecamatan dari total 18 kecamatan sebagai daerah rawan bencana banjir. Sangatta Selatan, Kampung Kajang, Gunung Tehnik, dan Kabo Jaya. Tujuh Kecamatan Lainnya: Busang, Telen, Muara Ancalong, Muara Bengkal, Rantau Pulung, Teluk Pandan, dan Bengalon. Dengan perhatian pada semua aspek ini, Kutai Timur diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan, meminimalisir dampak negatif, dan menjamin kehadiran pemerintah saat krisis terjadi. (Adv-DPRD)

  • DPRD Kutim Dorong Anggaran Perubahan untuk Genjot 85 Destinasi Wisata Kaliurang-Karangan

    DPRD Kutim Dorong Anggaran Perubahan untuk Genjot 85 Destinasi Wisata Kaliurang-Karangan

    Kutai Timur – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur mendesak percepatan dan penguatan pengembangan sektor pariwisata di Kecamatan Kaliurang dan Karangan yang secara total memiliki 85 destinasi unggulan. Fokus utama penyorotan DPRD adalah peningkatan infrastruktur dasar dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata melalui alokasi anggaran pada APBD Perubahan.

    Anggota Komisi C DPRD Kutim, dr Novel Tyty Paembonan, menekankan bahwa potensi wisata alam, budaya, dan sejarah di dua kecamatan tersebut sangat luar biasa, namun terkendala infrastruktur

     “Prioritas utama meliputi perbaikan akses jalan, ketersediaan listrik, dan air bersih. Infrastruktur pendukung masih perlu peningkatan signifikan untuk mengoptimalkan potensi ini,” ujar Novel (16/11/2025).

     Novel mendorong pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) wisata di setiap desa berpotensi. Hal ini bertujuan agar manfaat ekonomi dari pengembangan pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. “Pengembangan wisata harus memberikan dampak langsung bagi warga sekitar. Kami akan mengawal pelatihan dan pemberdayaan agar masyarakat mampu menjadi pengelola destinasi yang profesional,” tambahnya.

    Politisi ini mengapresiasi pelatihan bagi 200 pelaku wisata yang telah dilakukan Dinas Pariwisata. Namun, ia meminta agar penyusunan paket wisata lebih berpihak pada pelaku usaha lokal, bukan didominasi oleh travel agent dari luar daerah.

    Langkah strategis berikutnya yang didorong Novel mencakup promosi digital dan penyusunan kalender event tahunan yang terstruktur. “Kutai Timur memiliki peluang besar menjadi destinasi unggulan Kalimantan Timur. DPRD siap mendukung melalui kebijakan dan penganggaran,” tegasnya.

    Dengan pendekatan komprehensif ini, DPRD berharap potensi 85 destinasi wisata di Kaliurang dan Karangan dapat menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berkelanjutan, berbasis pada pemberdayaan masyarakat dan infrastruktur yang memadai. (ADV)

  • Sayid Anjas: Mutasi NPWP Karyawan Perusahaan Wajib, Pajaknya Harus Masuk Kutim

    Sayid Anjas: Mutasi NPWP Karyawan Perusahaan Wajib, Pajaknya Harus Masuk Kutim

    Kutai Timur – Wakil Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim) Sayid Anjas menegaskan bahwa perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim wajib memastikan seluruh karyawan yang berasal dari luar daerah memindahkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) mereka ke Kutim. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak penghasilan.

    Pernyataan itu ia sampaikan saat Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) No. 4 Tahun 2025 tentang perubahan Perda No. 1 Tahun 2024 mengenai Pajak Daerah dan Retribusi. Menurutnya, selama ini banyak pekerja dari luar daerah tidak melakukan mutasi NPWP, sehingga pajak penghasilan mereka tidak masuk sebagai pemasukan daerah.

    “Salah satu sumber PAD adalah pajak penghasilan. Karena itu kami berharap perusahaan membantu pemerintah dengan mewajibkan karyawan yang NPWP-nya masih di luar Kutim untuk segera mutasi ke Kutim. Dengan demikian, pajaknya masuk menjadi PAD daerah,” tegas Anjas,Minggu (16/11/2025).

    Ia menambahkan, Pemerintah Daerah bersama DPRD siap memfasilitasi proses mutasi NPWP agar perusahaan tidak mengalami kesulitan. Mutasi tersebut juga tidak menimbulkan beban tambahan bagi perusahaan karena pajak tetap dibayar, hanya penyaluran penerimaannya yang berubah.

    “Ini bukan beban bagi perusahaan. Pajak tetap dibayar, hanya saja dengan mutasi NPWP, hasilnya bisa kembali ke Kutim sebagai pemasukan daerah,” jelasnya.

    Anjas juga menyinggung soal kendaraan operasional perusahaan yang masih menggunakan pelat nomor luar daerah. Menurutnya, kendaraan yang digunakan sehari-hari dalam kegiatan perusahaan di Kutim seharusnya dimutasikan agar pajak kendaraan bermotor (PKB) dapat masuk ke kas daerah.

    “Sebelumnya kami juga meminta perusahaan memutasikan kendaraan operasionalnya. Logikanya sama: pajak kendaraan tetap dibayar, jadi lebih baik jika masuk ke PAD Kutim,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah memberikan berbagai insentif bagi perusahaan yang menanamkan investasi di Kutim. Karena itu, perusahaan diminta kooperatif terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan pendapatan daerah.

    “Pemerintah sudah memberikan banyak kemudahan bagi investasi. Jadi soal NPWP dan kendaraan ini mestinya tidak ada alasan untuk menolak, karena semuanya juga kembali untuk pembangunan daerah,” pungkasnya.

    Dengan langkah ini, DPRD berharap PAD Kutim dapat meningkat signifikan dan memberikan ruang fiskal lebih besar untuk pembangunan daerah, khususnya sektor infrastruktur dan layanan publik.(Adv/DPRD)

  • Disbun Kutim Perkuat Pembinaan Petani Karet, Jamin Kualitas dan Stabilitas Harga

    Disbun Kutim Perkuat Pembinaan Petani Karet, Jamin Kualitas dan Stabilitas Harga

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Perkebunan (Disbun) terus memperkuat pembinaan terhadap petani karet di berbagai wilayah. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan mutu getah yang dihasilkan sekaligus memperluas akses pasar agar harga jual lebih stabil.

    Kabid Usaha, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Disbun Kutim, Aminudin Azis, menyebutkan bahwa komoditas karet masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat di banyak kecamatan. Namun, sebagian petani masih menghadapi kendala dalam hal teknik penyadapan dan kualitas lateks yang belum optimal.

    “Melalui pelatihan dan bimbingan teknis, kami dorong petani agar memahami cara penyadapan yang tepat. Bukan hanya soal hasil, tapi juga menjaga kelestarian pohon dan kualitas getahnya,” ungkap Aminudin,Minggu (16/11/2025).

    Selain peningkatan kapasitas teknis, Disbun Kutim juga membantu memperkuat jaringan pemasaran hasil karet. Menurut Aminudin, beberapa kelompok tani kini sudah diarahkan untuk menjalin kemitraan dengan pabrik pengolahan karet di Samarinda agar penjualan lebih terjamin.

    “Kami bantu fasilitasi agar petani bisa langsung menyalurkan hasil panennya ke pabrik. Dengan begitu, tidak lagi bergantung pada tengkulak dan harga pun lebih terkontrol,” jelasnya.

    Program kemitraan ini dinilai efektif karena memberikan kepastian pasar bagi petani. Sebelumnya, banyak petani mengeluhkan kesulitan menjual hasil panen dan sering kali menghadapi fluktuasi harga di tingkat lapangan.

    “Kami terus dorong agar kerja sama ini diperluas. Kalau pemasaran sudah lancar, otomatis petani akan lebih semangat meningkatkan produksinya,” tambahnya.

    Aminudin menegaskan, pemerintah daerah tidak hanya fokus pada aspek produksi, tetapi juga mendorong pengolahan pascapanen agar karet yang dijual memiliki nilai tambah.

    “Kita arahkan petani untuk mulai mengeringkan lateks dengan benar dan menjaga kebersihan bahan baku. Dengan begitu, kualitas karet Kutim bisa bersaing di tingkat regional,” tuturnya.

    Ia juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi mutu agar ke depan Kutai Timur mampu menjadi salah satu sentra produksi karet unggulan di Kalimantan Timur.

    “Kalau kualitas terjaga dan pasarnya jelas, kesejahteraan petani pasti ikut meningkat,” tutup Aminudin(Adv/Kominfo)

  • Mahyunadi Tegaskan: Peningkatan Kasus HIV/AIDS di Kutim Bukan Lonjakan, Tapi Hasil Pendataan Masif

    Mahyunadi Tegaskan: Peningkatan Kasus HIV/AIDS di Kutim Bukan Lonjakan, Tapi Hasil Pendataan Masif

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memberikan penjelasan resmi terkait munculnya laporan peningkatan kasus HIV/AIDS di tahun 2025.

    Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menegaskan bahwa kenaikan angka tersebut bukan karena adanya penularan baru, melainkan hasil dari proses pendataan dan pelacakan yang kini dilakukan lebih masif oleh tim kesehatan di lapangan.

    “Kita sekarang semakin aktif menjangkau masyarakat. Banyak yang dulu belum terdata, sekarang sudah masuk semua. Jadi kalau datanya terlihat naik, itu artinya kita bekerja lebih serius, bukan karena kasusnya bertambah,” tegas Mahyunadi, Minggu (16/11/2025).

    Ia menjelaskan, selama ini sebagian warga enggan melapor atau memeriksakan diri karena takut stigma sosial. Namun, berkat pendekatan persuasif dan edukatif dari petugas lapangan, kesadaran masyarakat mulai tumbuh untuk terbuka terhadap pemeriksaan kesehatan.

    “Kadang orang salah paham. Dikira datanya naik karena penyebaran makin parah. Padahal tidak. Justru karena pendataan kita semakin akurat dan jangkauannya makin luas,” ujarnya.

    Menurut Mahyunadi, langkah ini menjadi bagian penting dari upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS di Kutim. Pemerintah tidak ingin menutup mata terhadap realitas di lapangan, karena data yang jelas akan membantu menentukan kebijakan yang tepat sasaran.

    “Kalau datanya tidak jelas, kita tidak tahu siapa yang harus ditangani. Dengan data yang kuat, penanganan bisa lebih cepat dan terarah,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, meningkatnya jumlah pendatang dari luar daerah juga menjadi salah satu faktor bertambahnya data. Para pekerja baru yang sebelumnya tidak tercatat kini sudah masuk dalam sistem pendataan kesehatan daerah.

    “Banyak pekerja baru di sektor tambang dan perkebunan. Kita masukkan mereka semua dalam data supaya bisa terpantau kesehatannya,” kata Mahyunadi.

    Pemerintah Kutim juga memastikan bahwa setiap warga, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama untuk mendapat layanan pemeriksaan dan edukasi tentang HIV/AIDS.
    “Semua warga Kutim berhak sehat. Tidak ada yang kita bedakan, baik penduduk lama maupun pendatang,” tegasnya.

    Mahyunadi pun memberikan apresiasi tinggi kepada para tenaga kesehatan yang bekerja tanpa kenal waktu. Menurutnya, dedikasi mereka di lapangan patut dihargai karena telah membantu pemerintah mendekati masyarakat dengan cara-cara yang humanis.

    “Mereka bekerja siang malam, mendata dengan sabar, dan menjaga kerahasiaan pasien. Itu pekerjaan luar biasa,” ucapnya.

    Ia berharap masyarakat tidak lagi memandang isu HIV/AIDS sebagai hal yang memalukan atau tabu. Sebaliknya, Mahyunadi mengajak warga untuk berani memeriksakan diri dan terbuka demi kesehatan bersama.

    “Yang penting itu kesadaran dan kejujuran. Kalau kita sadar sejak awal, penanganannya bisa cepat,” ujarnya.

    Di akhir keterangannya, Mahyunadi menegaskan komitmen Pemkab Kutim untuk menjaga kerahasiaan dan keselamatan pasien.

    “Semua data kita lindungi. Kita hanya ingin memastikan semuanya aman, sehat, dan tertangani dengan baik,” pungkasnya.(Adv/Kominfo)

  • Pemkab Kutim Apresiasi BI atas Dukungan Teknologi Irigasi untuk Petani Hortikultura

    Pemkab Kutim Apresiasi BI atas Dukungan Teknologi Irigasi untuk Petani Hortikultura

    Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas bantuan teknologi irigasi berbasis internet bagi petani hortikultura di daerah tersebut. Bantuan ini dinilai memperkuat langkah modernisasi pertanian Kutim.

    Kabid DTPHP Kutim, Wahyudi Nur, mengatakan, bantuan itu diberikan kepada Kelompok Tani Karya Bersama di Desa Bumi Sejahtera, Kecamatan Kaliurang.

    “Teknologi irigasi ini sudah berjalan lebih dari satu tahun dan hasilnya sangat positif,” ucap Wahyudi,Minggu (16/11/2025).

    Ia menjelaskan, alat tersebut membantu petani mengatur penyiraman dan memantau kondisi tanah secara real time melalui smartphone.

    “Petani dapat melihat kelembapan tanah, tingkat kekeringan, hingga estimasi kesuburan lahan dari aplikasi yang terhubung,” katanya.

    Menurut Wahyudi, langkah Bank Indonesia sejalan dengan program pengendalian inflasi daerah. Sebab, komoditas yang dikembangkan petani adalah bawang merah — salah satu penyumbang inflasi di Kutim.

    “Dengan teknologi ini, produksi bawang merah jadi lebih stabil dan efisien,” jelasnya.

    Pemkab Kutim menilai kolaborasi seperti ini penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. “Kami berterima kasih kepada BI karena dukungan ini membantu petani meningkatkan produktivitas,” ujarnya.

    Ia juga menyebutkan, selain mendukung petani, bantuan teknologi tersebut menjadi contoh penerapan smart agriculture di Kutim.

    Wahyudi berharap kerja sama lintas lembaga terus diperluas agar semakin banyak petani merasakan manfaat digitalisasi pertanian.

    “Ke depan, kami ingin ada lebih banyak alat serupa di berbagai kecamatan,” imbuhnya.

    Ia menegaskan bahwa Pemkab Kutim berkomitmen untuk terus mendukung penerapan teknologi di sektor pertanian rakyat.

    “Harapan kami, ini menjadi langkah awal menuju pertanian modern yang adaptif dan berkelanjutan,” tutup Wahyudi.(Adv/Kominfo)

  • Petani Himba Lestari Bangkitkan Ekonomi Hijau dari Lahan Nanas

    Petani Himba Lestari Bangkitkan Ekonomi Hijau dari Lahan Nanas

    Kutai Timur-Di balik hamparan lahan hijau nanas di Desa Himba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, tersimpan kisah perjuangan para petani yang perlahan bangkit membangun ekonomi desa. Nanas Himba Kutim tak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga simbol kemandirian dan inovasi petani lokal Kutai Timur.

    Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Kutai Timur, Wahyudi Noor, menyebut para petani di Himba Lestari kini tak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga berkomitmen menjaga lingkungan dengan menerapkan prinsip pertanian ramah alam.

    “Selain menjaga produktivitas, petani juga mulai memanfaatkan pupuk organik dan pengendalian hama alami. Kami ingin Himba Lestari menjadi contoh bagaimana petani lokal bisa mandiri, produktif, dan tetap menjaga kelestarian alam,” ujarnya,Minggu (16/11/2025)

    Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mendorong pertanian berkelanjutan di Kutai Timur. Dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, lahan pertanian dapat tetap subur dan produktif dalam jangka panjang.

    Para petani juga menunjukkan kreativitas tinggi dalam mengelola hasil panen. Sebagian buah nanas yang tidak lolos standar pasar segar, diolah menjadi produk turunan seperti selai, minuman fermentasi, dan bahan dasar penganan lokal.

    Menurut Wahyudi, inisiatif ini telah menciptakan nilai tambah ekonomi bagi kelompok tani di bawah naungan Gapoktan Mahkota. Selain memperpanjang umur simpan produk, pengolahan ini juga membuka peluang usaha bagi warga sekitar, terutama ibu rumah tangga.

    “Himba Lestari kini bukan hanya penghasil nanas manis, tapi juga pusat ekonomi berbasis komunitas tani. Ini yang kami sebut sebagai pertanian hijau yang berkeadilan,” tegas Wahyudi.

    Ia menilai semangat gotong royong petani di Himba Lestari menjadi kunci utama keberhasilan mereka. Setiap kelompok memiliki pembagian kerja yang jelas mulai dari penanaman, panen, hingga pemasaran.

    “Model seperti ini memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian tidak harus bergantung pada bantuan besar. Cukup dengan semangat kolaborasi dan pendampingan teknis yang tepat, petani bisa maju,” katanya.

    Ke depan, DTPHP Kutim akan terus memberikan pendampingan dan memperkuat akses pasar bagi petani Himba Lestari. Tujuannya agar nanas Himba Kutim benar-benar menjadi ikon ekonomi hijau di Kutai Timur.

    “Kalau Himba Lestari bisa, desa lain juga pasti bisa. Kita ingin semangat ini menular, agar seluruh Kutai Timur tumbuh lewat pertanian yang mandiri dan lestari,” tutup Wahyudi Noor.(Adv/Kominfo)

  • Pisang: Komoditas Unggulan Baru di Kaliorang, Siap Geser Dominasi Sawit

    Pisang: Komoditas Unggulan Baru di Kaliorang, Siap Geser Dominasi Sawit

    Kutai Timur – Di tengah dominasi perkebunan kelapa sawit, Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, kini menyoroti potensi besar lain di sektor hortikultura: pisang. Komoditas ini tumbuh menjadi harapan ekonomi baru, memberikan prospek menjanjikan bagi banyak warga.

    Camat Kaliorang, Rusmono, mengungkapkan bahwa luas lahan pisang di wilayahnya telah mencapai sekitar 500 hektare. Ia bahkan menyebut Kaliorang sebagai penghasil pisang terbesar di Kutai Timur.

    “Pisang menjadi salah satu komoditas yang paling banyak ditanam karena mudah dirawat dan cepat panen. Dari menanam sampai panen hanya butuh beberapa bulan,” jelas Rusmono, sabtu (15/11/2025)

    Jenis yang paling banyak dibudidayakan adalah pisang kepok krecek, yang memiliki permintaan tinggi. Rusmono menjelaskan bahwa produksi pisang Kaliorang bahkan sempat menembus pasar ekspor ke Belgia melalui kerja sama dengan pihak swasta, PT Mutigo.

    Sayangnya, setelah kontrak kerja sama dua tahun berakhir, ekspor tersebut terhenti karena tidak adanya perpanjangan pendampingan. Meski demikian, petani tetap optimistis karena pasar lokal masih kuat, dengan pemasaran utama ke Kutai Timur dan Bontang.

    Rusmono menyebutkan bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah biaya distribusi yang tinggi. Karena Kaliorang tidak memiliki pelabuhan ekspor langsung, pengiriman harus dilakukan melalui jalur darat yang memakan ongkos besar. “Kalau ongkos bisa ditekan, kita bisa bersaing dengan daerah lain seperti Sulawesi,” tuturnya.

    Pemerintah kecamatan saat ini gencar mendorong dukungan dari dinas terkait untuk memfasilitasi pemasaran yang lebih luas dan hilirisasi produk.

    “Kita ingin pisang tidak hanya dijual mentah, tapi juga diolah jadi produk turunan,” ujar Rusmono.

    Ia optimistis bahwa pisang akan menjadi komoditas andalan baru setelah sawit. “Kaliorang punya potensi besar, tinggal dukungan dan pasar yang perlu diperkuat,” pungkasnya.(Adv/Kominfo)

  • Dispora Kutim Dorong Olahraga Sebagai Gaya Hidup, Targetkan Prestasi Berkelanjutan

    Dispora Kutim Dorong Olahraga Sebagai Gaya Hidup, Targetkan Prestasi Berkelanjutan

    Kutai Timur – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menggiatkan gerakan memasyarakatkan olahraga, menjadikannya sebagai gaya hidup warga, bukan sekadar aktivitas fisik. Kepala Dispora, Basuki Isnawan, menyatakan bahwa tujuan utama pihaknya adalah mewujudkan masyarakat Kutim yang sehat, tangguh, dan berprestasi, melalui dua fungsi utama: pembinaan olahraga dan pemberdayaan pemuda.

    “Yang kita harapkan adalah bagaimana kita bisa memasyarakatkan olahraga. Masyarakat mau gemar berolahraga dan pada saat yang sama kita dorong peningkatan prestasi atlet-atlet kita,” jelas Basuki,Sabtu (15/11/2025).

    Ia mencontohkan kawasan Stadion Kudungga Sangatta yang kini ramai dipadati warga setiap pagi dan sore hari. Penuhnya kawasan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk berolahraga sudah tumbuh.

    Dalam upaya peningkatan prestasi, Dispora Kutim aktif menggandeng Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk membina berbagai cabang olahraga (cabor). Semua pengurus cabor didorong agar aktif menggelar latihan dan kegiatan kompetitif secara berkelanjutan.

    “Kami terus berkoordinasi dengan KONI agar setiap cabor tetap semangat mempersiapkan diri menuju berbagai ajang olahraga, termasuk Porprov mendatang,” lanjutnya.

    Basuki menekankan bahwa semangat atlet dan pelatih menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki fasilitas dan dukungan pembinaan. Dispora Kutim berharap, semangat olahraga masyarakat ini dapat berbanding lurus dengan peningkatan prestasi atlet Kutim di tingkat provinsi hingga nasional.

    “Bila masyarakat gemar olahraga, bibit atlet unggul akan lebih mudah muncul. Itulah target besar kita,” tutup Basuki.(Adv/Kominfo)

  • Petani Kutim Kini Gunakan Irigasi Pintar, Kontrol Air Hanya Lewat Smartphone

    Petani Kutim Kini Gunakan Irigasi Pintar, Kontrol Air Hanya Lewat Smartphone

    Kutai Timur-Inovasi baru dalam sektor pertanian mulai diterapkan oleh petani di Kutai Timur. Melalui bantuan Bank Indonesia, petani kini menggunakan alat irigasi berbasis internet yang dapat dikontrol langsung melalui smartphone.

    Kabid DTPHP Kutim, Wahyudi Nur, menjelaskan bahwa teknologi ini menjadi solusi efisien bagi petani hortikultura di tengah tantangan cuaca ekstrem.

    “Petani bisa mengatur kapan penyiraman dilakukan hanya dari ponsel. Semua proses sudah terintegrasi secara digital,” katanya,Minggu (15/11/2025)

    Alat tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengatur penyiraman, tetapi juga mampu memantau kelembapan tanah dan tingkat kekeringan lahan. Bahkan, sistemnya dapat memperkirakan kandungan serat tanah secara otomatis.

    Menurut Wahyudi, inovasi ini membuat pekerjaan petani jauh lebih cepat dan efisien. Biasanya penyiraman dilakukan manual selama berjam-jam, kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

    “Dampaknya sangat besar terhadap produktivitas dan efisiensi tenaga kerja,” ujarnya.

    Teknologi tersebut saat ini digunakan oleh Kelompok Tani Karya Bersama di Desa Bumi Sejahtera, Kecamatan Kaliurang. Lahan yang dikelola mencapai tiga hektare.

    Wahyudi menambahkan, alat ini menggunakan sistem sprinkler yang mendistribusikan air secara merata ke seluruh lahan. Instalasinya dilakukan secara mandiri oleh kelompok tani.

    Ia juga menyebutkan bahwa bantuan ini menjadi bukti nyata dukungan Bank Indonesia terhadap pertanian modern. “Ini bukan hanya bantuan alat, tapi juga investasi teknologi jangka panjang,” jelasnya.

    Keberadaan teknologi irigasi pintar ini diharapkan mampu menginspirasi kelompok tani lainnya di Kutim.

    “Petani sekarang harus mulai akrab dengan teknologi digital. Kita dorong agar semakin banyak yang memanfaatkannya,” tegas Wahyudi.

    DTPHP Kutim berkomitmen mendampingi petani agar mampu mengoperasikan alat tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.

    “Kami ingin teknologi ini tidak hanya berhenti di satu lokasi, tapi bisa menjadi model untuk pertanian cerdas di Kutim,” tutupnya.(Adv/Kominfo)