Category: Kecamatan

  • Diduga Induk dan Anak, Beruang Madu Makin Sering Muncul di Permukiman Warga

    Diduga Induk dan Anak, Beruang Madu Makin Sering Muncul di Permukiman Warga

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Warga Desa Marah Haloq, Kecamatan Telen, kembali dibuat resah dengan kemunculan beruang madu yang semakin sering terlihat di sekitar permukiman. Satwa liar tersebut bahkan dilaporkan mendekati rumah warga dalam beberapa hari terakhir.

    Kemunculan beruang ini diketahui bukan pertama kali terjadi. Berdasarkan keterangan warga dan pemerintah desa, keberadaan satwa tersebut sudah terpantau sejak menjelang Ramadan 2026 di kawasan Sungai Liu.

    Setelah sempat menghilang selama beberapa pekan, beruang kembali muncul usai Lebaran. Namun kali ini, intensitas kemunculannya jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

    Dalam laporan warga, beruang tersebut terlihat hampir setiap hari dan berpindah-pindah lokasi. Mulai dari RT 5, kemudian ke RT 4, hingga kini muncul di wilayah RT 1 yang lebih dekat dengan permukiman padat.

    Kepala Desa Marah Haloq, Gusti Mandala, mengungkapkan bahwa awalnya hanya satu ekor beruang berukuran kecil yang terlihat. Namun belakangan diduga terdapat lebih dari satu ekor.

    “Awalnya hanya satu yang kecil. Tapi sekarang kemungkinan sudah ada induknya juga. Yang besar ukurannya bisa mencapai 60 sampai 70 kilogram,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, warga sempat berupaya mengusir beruang dengan cara sederhana. Namun upaya tersebut tidak memberikan hasil jangka panjang.

    “Pernah kami coba usir secara manual, sempat hilang beberapa minggu. Tapi setelah Lebaran muncul lagi, bahkan sekarang hampir setiap hari terlihat,” tambahnya.

    Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa memutuskan untuk tidak mengambil risiko dengan penanganan mandiri. Koordinasi pun dilakukan dengan aparat kepolisian dan instansi terkait.

    Kapolres Kutai Timur AKBP Fauzan Arianto mengingatkan masyarakat untuk tidak bertindak sendiri dalam menghadapi satwa liar tersebut. Ia menekankan pentingnya keselamatan warga.

    “Kami minta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berbahaya. Hindari area yang rawan dan segera laporkan jika melihat beruang,” katanya.

    Ia juga menegaskan bahwa beruang madu termasuk satwa yang dilindungi sehingga tidak boleh dilukai atau diburu oleh warga.

    “Selain berbahaya, tindakan melukai satwa dilindungi juga melanggar hukum. Jadi kami harap masyarakat bisa menahan diri,” tegasnya.

    Saat ini, pihak desa bersama aparat terus berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Timur guna menangani kemunculan beruang tersebut secara profesional.

    Hingga kini, belum ada laporan korban akibat kejadian tersebut. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada dan membatasi aktivitas di area yang berpotensi menjadi jalur perlintasan beruang.

  • Sejak 1976 Berdiri, Bandara Uyang Lahai Masih Terkendala Landasan dan RBU

    Sejak 1976 Berdiri, Bandara Uyang Lahai Masih Terkendala Landasan dan RBU

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Harapan masyarakat pedalaman Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk menikmati akses transportasi udara yang lancar melalui Bandara Uyang Lahai hingga kini belum sepenuhnya terwujud.

    Meski telah berdiri sejak 1976 dan diresmikan pada 19 September 2013, bandara yang berada di Kecamatan Kongbeng itu masih menghadapi kendala infrastruktur dan administrasi yang membuat operasionalnya belum optimal.

    Bandara Uyang Lahai sejatinya digadang-gadang menjadi penghubung strategis bagi tiga kecamatan, yakni Kongbeng, Muara Wahau, dan Telen. Namun kondisi landasan yang belum diaspal atau dicor membuat aktivitas penerbangan sangat bergantung pada cuaca.

    Setiap kali hujan turun, pesawat tidak dapat mendarat karena permukaan landasan yang masih berupa tanah menjadi licin dan berisiko. Akibatnya, jadwal penerbangan kerap tertunda bahkan dibatalkan.

    Camat Kongbeng, Petrus Ivung, menyebut persoalan tersebut sudah berlangsung cukup lama dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah.

    “Kalau landasan ini sudah cor, saya yakin pasti tidak ada kendala. Misalnya gerimis pasti orang akan masuk di situ,” ujar Petrus saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, Selasa (24/2/2026).

    Saat ini, dari total panjang lahan sekitar 2.300 meter, baru 820 meter landasan yang terbangun. Itu pun belum dilapisi aspal atau beton sehingga belum memenuhi standar optimal untuk operasional penerbangan reguler.

    Dengan kondisi tersebut, pesawat yang bisa mendarat pun terbatas pada tipe kecil dengan kapasitas delapan hingga sembilan penumpang. Padahal sebelumnya sempat ada pesawat dengan daya angkut hingga 18 penumpang yang beroperasi di bandara tersebut.

    Menurut Petrus, jika landasan diperkeras, peluang pemanfaatan bandara akan jauh lebih besar, termasuk oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah pedalaman Kutim.

    “Yang seharusnya ini bandara kita sudah dipakai, sudah dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan sekitar termasuk masyarakat yang beberapa kecamatan,” katanya.

    Selain persoalan fisik landasan, pengurusan Register Bandar Udara (RBU) juga menjadi tantangan tersendiri. Dokumen tersebut merupakan syarat penting agar bandara dapat terintegrasi dalam sistem navigasi udara nasional.

    Tanpa RBU, operasional penerbangan tidak dapat berjalan maksimal dan peningkatan status bandara sulit direalisasikan. Legalitas administrasi menjadi fondasi penting dalam pengembangan bandara perintis.

    Bandara yang dinamai dari tokoh adat Dayak setempat ini memiliki nilai historis dan simbolis bagi masyarakat. Keberadaannya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta mempercepat mobilitas warga di wilayah pedalaman.

    Pemerintah kecamatan pun telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur hingga Kementerian Perhubungan guna mendorong percepatan pembangunan dan penyelesaian administrasi.

    “Kita komunikasi dengan pihak kementerian, dan koordinasi dengan pihak Kabupaten Kutim juga. Kita akan bersama-sama,” pungkas Petrus.

  • Buaya Muncul di Tengah Banjir Bengalon, Bocah dan Lansia Jadi Korban

    Buaya Muncul di Tengah Banjir Bengalon, Bocah dan Lansia Jadi Korban

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Seekor buaya tiba-tiba muncul di tengah banjir yang merendam permukiman warga di Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Selasa 17/2/2026, sekitar pukul 13.00 WITA.

    Kemunculan satwa liar tersebut mengakibatkan seorang bocah dan seorang lansia mengalami luka gigitan.

    Korban diketahui seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dan Ernawati (65). Keduanya diserang saat berada di sekitar halaman rumah yang tergenang air akibat banjir.

    Kapolsek Bengalon, AKP Asriadi, menjelaskan peristiwa itu bermula ketika empat anak terlihat bermain air di halaman rumah Ernawati yang terendam banjir. Salah satu anak berenang ke bagian yang lebih dalam tanpa menyadari adanya ancaman.

    “Tiba-tiba buaya muncul dari genangan dan langsung menggigit kaki korban. Anak tersebut berteriak minta tolong,” ujar AKP Asriadi dalam keterangan tertulisnya.

    Mendengar teriakan itu, Ernawati yang berada di lokasi segera turun ke air untuk menolong korban. Ia berupaya menarik bocah tersebut ke tepi agar terlepas dari gigitan buaya.

    Namun upaya penyelamatan itu justru membuat Ernawati ikut menjadi sasaran. Buaya kembali menyerang dan menggigit tangan kanan lansia tersebut.

    “Saat mencoba menarik korban, buaya kembali menggigit dan mengenai tangan Ernawati,” jelasnya.

    Warga lain yang berada di sekitar lokasi, termasuk seorang perempuan bernama Fatmawati, turut membantu proses penyelamatan. Dengan alat seadanya, mereka memukul buaya hingga hewan tersebut akhirnya melepaskan kedua korban.

    Setelah berhasil diselamatkan, kedua korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth untuk mendapatkan perawatan medis.

    Anak tersebut mengalami luka robek di bagian kaki kanan akibat gigitan buaya. Sementara Ernawati menderita luka gigitan di tangan kanan dan mendapat penanganan intensif dari tenaga medis.

    Polsek Bengalon yang menerima laporan kejadian segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi.

    AKP Asriadi mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan instansi terkait guna mengantisipasi potensi kemunculan buaya di kawasan permukiman saat banjir.

    Ia mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika banjir melanda dan menyebabkan satwa liar keluar dari habitat aslinya.

    “Kami minta orang tua lebih ketat mengawasi anak-anak saat banjir. Kondisi seperti ini rawan karena buaya bisa masuk hingga ke halaman rumah warga,” tegas AKP Asriadi.

    Peristiwa ini menambah daftar kasus kemunculan buaya di wilayah Kutai Timur saat musim hujan dan banjir, sehingga masyarakat diminta tidak lengah terhadap potensi bahaya yang mengintai.

  • Tak Ada SMA di Desa, Pelajar Sangkima Harus Menempuh 20 KM ke Kota Sangatta

    Tak Ada SMA di Desa, Pelajar Sangkima Harus Menempuh 20 KM ke Kota Sangatta

    ​www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Impian anak-anak Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, untuk mengenyam pendidikan menengah atas harus dibayar mahal dengan perjuangan fisik dan materi. Ketiadaan bangunan SMA di desa mereka memaksa para siswa menempuh perjalanan hingga puluhan kilometer menuju pusat Kota Sangatta setiap harinya.

    ​Kepala Desa Sangkima, Muhammad Alwi, mengungkapkan bahwa jarak tempuh dari pusat desa ke sekolah terdekat di Sangatta mencapai 13 kilometer. Namun, bagi pelajar yang tinggal di wilayah pesisir, jarak tersebut membengkak hingga 20 kilometer.

    ​“Setiap tahun, lulusan SMP di sini tidak punya pilihan selain ke kota. Jaraknya jauh, apalagi yang dari pesisir bisa sampai 20 kilometer,” ujar Alwi saat dihubungi melalui telepon, Kamis (12/02/2026).

    Persoalan jarak kian diperparah oleh kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan. Alwi menyoroti proyek Ring Road (jalan lingkar) yang hingga kini belum tersambung utuh. Padahal, jalan ini merupakan urat nadi utama bagi mobilitas warga, termasuk para pelajar.

    ​“Sudah puluhan tahun Kutai Timur berdiri, tapi jalan lingkar itu baru terbuka sekitar sembilan kilometer. Sisanya belum dilanjutkan sampai sekarang,” keluhnya.

    ​Alwi membantah anggapan bahwa status kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) menjadi penghalang mati bagi pembangunan. Menurutnya, pihak Balai TNK pada dasarnya terbuka untuk pembangunan melalui mekanisme Perjanjian Kerja Sama (PKS), selama tidak mengganggu zona inti konservasi.

    Kondisi ini menciptakan efek domino yang mengancam masa depan generasi muda Sangkima. Bagi keluarga yang kurang mampu secara ekonomi, menyekolahkan anak ke kota adalah beban berat. Akibatnya, angka putus sekolah di desa tersebut masih terus membayangi.

    ​“Banyak yang akhirnya berhenti sekolah karena tidak sanggup membiayai kos di Sangatta. Kalau tidak kos, jaraknya terlalu jauh untuk pulang-pergi,” jelas Alwi.

    ​Selain masalah biaya, Alwi juga mengkhawatirkan dampak sosial bagi siswa yang terpaksa tinggal di rumah indekos. Tanpa pengawasan langsung dari orang tua di kota, beberapa siswa rentan terpengaruh lingkungan negatif hingga berujung pada kegagalan studi.

    Saat ini, pihak kecamatan dan pemerintah daerah mulai membahas peluang kolaborasi untuk membuka kembali akses jalan yang terputus. Alwi berharap rencana ini bukan sekadar wacana, melainkan segera direalisasikan demi keadilan akses pendidikan.

    ​“Kami hanya ingin anak-anak kami punya kesempatan yang sama. Tersambungnya jalan bukan cuma soal transportasi, tapi soal menyelamatkan masa depan generasi muda di Sangatta Selatan,” tutupnya.

  • Asisten I Kutim: Konflik Lahan PT BAS Harusnya Clean and Clear Sejak 2023

    Asisten I Kutim: Konflik Lahan PT BAS Harusnya Clean and Clear Sejak 2023

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan bahwa sengketa dan konflik pertanahan antara masyarakat dengan PT Bima Agri Sawit (PT BAS) di Kecamatan Karangan seharusnya telah selesai sejak tahun 2023.

    Penegasan tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asisten I) Setkab Kutim, Trisno, menyusul kembali munculnya aduan masyarakat terkait persoalan lahan yang sama.

    Menurut Trisno, Pemkab Kutim telah menerbitkan rekomendasi penyelesaian konflik pertanahan pada tahun 2023 yang bersifat komprehensif dan mengikat. Rekomendasi tersebut memuat empat poin utama yang menjadi dasar penyelesaian sengketa.

    “Dalam rekomendasi itu, subjeknya sudah jelas, objeknya jelas, dan petunjuk penyelesaiannya juga jelas. Seharusnya persoalan ini sudah clean and clear dan tidak ada masalah lagi,” ujar Trisno.

    Ia menjelaskan, rekomendasi tersebut merupakan hasil kajian mendalam yang telah melalui proses verifikasi data dan fakta di lapangan. Karena itu, pemerintah daerah menilai tidak ada lagi ruang untuk penafsiran baru di luar rekomendasi yang telah diterbitkan.

    Namun demikian, hingga saat ini Pemkab Kutim mengaku belum menerima laporan resmi dari PT BAS terkait progres pelaksanaan rekomendasi tersebut. Padahal, laporan tersebut dinilai penting sebagai bahan evaluasi pemerintah daerah.

    “Kami meminta PT BAS menyampaikan laporan progres pelaksanaan rekomendasi paling lambat tujuh hari sejak rapat hari ini. Laporan itu akan kami analisis melalui tim fasilitasi,” jelasnya.

    Trisno menegaskan, pemerintah daerah tidak akan mengeluarkan rekomendasi baru atas sengketa lahan tersebut. Sikap Pemkab Kutim tetap mengacu pada rekomendasi tahun 2023 yang dinilai sudah final.

    “Titik terang penyelesaian itu ada pada rekomendasi 2023. Kalau dilaksanakan, selesai. Pemerintah daerah tidak bisa lagi membuat rekomendasi baru,” tegasnya.

    Ia juga menyinggung adanya perbedaan persepsi keadilan di tengah masyarakat. Menurutnya, pemerintah bekerja berdasarkan regulasi yang menjadi standar keadilan negara.

    “Kalau ada pihak yang merasa belum adil, silakan menempuh jalur lain sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

    Lebih lanjut, Trisno menjelaskan bahwa kewenangan pemerintah daerah dalam konflik pertanahan hanya sebatas fasilitasi dan penerbitan rekomendasi. Setelah itu, tidak ada tahapan lanjutan di tingkat pemerintah daerah.

    “Fasilitasi hari ini hanya untuk memastikan rekomendasi dijalankan, bukan untuk memberikan petunjuk atau keputusan baru,” pungkas Trisno.

  • Jalur Hauling Ditutup, Truk Masuk Jalan Umum: Keselamatan Warga Desa Sekerat Terabaikan

    Jalur Hauling Ditutup, Truk Masuk Jalan Umum: Keselamatan Warga Desa Sekerat Terabaikan

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Aktivitas truk perusahaan yang melintas di jalan umum Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menuai keresahan serius dari masyarakat.

    Truk bermuatan berat tersebut dinilai mengancam keselamatan warga karena melewati kawasan permukiman yang setiap hari digunakan untuk aktivitas masyarakat.

    Kekhawatiran warga meningkat setelah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk perusahaan. Seorang warga bernama E, warga Gang Pinrang, Desa Sekerat, dilaporkan tertabrak truk di simpang tiga Kantor Desa Sekerat saat hendak menuju kantor desa.

    Akibat insiden tersebut, korban mengalami luka cukup serius dan harus menjalani perawatan medis. Kecelakaan ini menjadi pemicu utama kemarahan dan keresahan warga terhadap aktivitas truk di jalan kampung.

    Salah satu saudara korban, mengungkapkan bahwa luka paling parah dialami korban di bagian kepala. Hingga kini, kondisi Korban masih dalam tahap pemulihan dan belum dapat beraktivitas seperti biasa.

    “Adik saya tertabrak truk di simpang kantor desa. Lukanya cukup parah di bagian kepala dan sampai sekarang masih menjalani pemulihan,” ujar saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon WhatsApp.

    Menurutya, kecelakaan tersebut bukan satu-satunya kejadian. Ia menyebut insiden serupa kembali terjadi di wilayah Sekurau, Desa Sekerat, yang semakin memperkuat kekhawatiran warga terhadap keselamatan pengguna jalan.

    “Ada lagi kejadian di Sekurau, kendaraan bermotor menabrak truk. Ini membuktikan bahwa jalan kampung memang tidak aman dilewati truk-truk besar,” katanya.

    Ia menjelaskan, truk perusahaan melintas di jalan umum lantaran jalur hauling sementara ditutup oleh pemilik lahan. Namun, pengalihan jalur tersebut dinilai dilakukan tanpa koordinasi dengan warga maupun pemerintah desa.

    “Jalan hauling ditutup pemilik lahan, lalu truk langsung dialihkan ke jalan umum tanpa pemberitahuan. Seolah-olah jalan kampung bebas dilewati,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, warga sempat menahan sejumlah truk bermuatan material sebagai bentuk upaya melindungi keselamatan masyarakat. Warga berharap pemerintah desa dan perusahaan segera mengambil langkah tegas dengan mengaktifkan kembali jalur hauling dan mengutamakan keselamatan warga.

  • RDTR Jadi Rujukan, Penataan Permukiman di Kawasan TNK Masih Dikaji

    RDTR Jadi Rujukan, Penataan Permukiman di Kawasan TNK Masih Dikaji

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Persoalan permukiman warga yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), khususnya di Kecamatan Sangatta Selatan, hingga kini masih dalam tahap pengkajian.

    Pemerintah kecamatan menegaskan bahwa Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Kutai Timur menjadi salah satu rujukan utama dalam melihat arah penataan wilayah yang bersinggungan dengan kawasan konservasi tersebut.

    Camat Sangatta Selatan, Dewi Dohi, menyampaikan bahwa persoalan permukiman di kawasan TNK tidak bisa diselesaikan secara tergesa-gesa karena menyangkut banyak aspek, mulai dari sosial, lingkungan, hingga regulasi.

    Oleh karena itu, setiap langkah penanganan harus merujuk pada dokumen perencanaan resmi yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

    Menurut Dewi, RDTR memiliki peran penting dalam memberikan gambaran zonasi dan peruntukan ruang di wilayah Kutai Timur. Dokumen tersebut menjadi acuan awal untuk menilai sejauh mana kebijakan penataan dapat dilakukan tanpa melanggar aturan kawasan konservasi.

    “Kita melihat RDTR yang ada sebagai rujukan. Karena persoalan ini sudah menjadi isu di tingkat kabupaten, bukan hanya kewenangan kecamatan,” ujarnya.

    Ia mengakui, keberadaan permukiman di dalam kawasan TNK merupakan persoalan lama yang telah berlangsung sejak sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai taman nasional. Kondisi tersebut membuat penanganannya membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan dampak sosial baru di tengah masyarakat.

    “Banyak warga yang sudah lama tinggal di sana. Jadi pendekatannya tidak bisa semata-mata penertiban, tapi harus mempertimbangkan aspek kemanusiaan,” kata Dewi.

    Dewi menegaskan bahwa pihak kecamatan memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengambil keputusan strategis terkait kawasan TNK. Penataan kawasan konservasi, kata dia, merupakan ranah kebijakan pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat.

    Hingga saat ini, Pemerintah Kecamatan Sangatta Selatan masih menunggu arahan resmi dari pimpinan daerah terkait langkah konkret yang dapat dilakukan, khususnya yang berkaitan dengan penataan permukiman warga di kawasan TNK.

    “Sampai sekarang belum ada arahan khusus. Kami menunggu kebijakan dari kabupaten dan tentu akan bergerak sesuai aturan yang berlaku,” jelasnya.

    Dalam posisinya, kecamatan lebih berperan sebagai fasilitator yang menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah di level yang lebih tinggi. Setiap kebijakan yang diambil nantinya diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan warga tanpa mengabaikan fungsi konservasi TNK.

    Selain fokus pada isu tata ruang, Dewi menyebut pemerintah kecamatan tetap memprioritaskan pembenahan lingkungan. Upaya mitigasi bencana, khususnya banjir, terus didorong sebagai bagian dari pengelolaan wilayah yang berkelanjutan.

    “Yang terpenting, kebijakan ke depan harus berimbang. Lingkungan tetap terjaga, tapi kebutuhan dasar masyarakat juga tidak diabaikan,” pungkasnya.

  • Peduli Generasi Muda, PT Subur Abadi Plantations Gelar Edukasi Kesehatan dan Keselamatan

    Peduli Generasi Muda, PT Subur Abadi Plantations Gelar Edukasi Kesehatan dan Keselamatan

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Sebagai bentuk kepedulian terhadap pembentukan karakter dan kualitas hidup generasi muda, PT Subur Abadi Plantations (SAP) menggelar kegiatan edukasi kesehatan dan keselamatan bagi anak-anak di ruang belajar perusahaan.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menanamkan kesadaran hidup sehat dan perilaku aman sejak usia dini.

    Administratur PT Subur Abadi Plantations, Abdus Syukur, mengatakan bahwa edukasi kesehatan dan keselamatan merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang tangguh dan berdaya saing.

    Menurutnya, pemahaman sejak dini sangat penting untuk membentuk kebiasaan positif yang berkelanjutan.

    “Kesehatan dan keselamatan adalah nilai yang terus kami tanamkan. Dengan memberikan edukasi sejak usia dini, kami berharap anak-anak tumbuh dengan kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan lingkungan sekitarnya,” ujar Abdus Syukur, Senin (26/1/2026).

    Ia menambahkan, kurangnya pemahaman terkait perilaku hidup sehat dan aman dapat meningkatkan risiko penyakit maupun kecelakaan di kemudian hari.

    Oleh karena itu, perusahaan mendorong metode pembelajaran yang interaktif dan disertai praktik langsung agar mudah dipahami oleh anak-anak.

    Kegiatan edukasi ini menghadirkan sejumlah materi, di antaranya kesehatan gigi yang disampaikan oleh dr. Vera. Dalam sesi tersebut, anak-anak tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga mengikuti praktik menyikat gigi dengan cara yang benar, sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Materi keselamatan berkendara disampaikan oleh perwakilan Safety, Health, and Environment (SHE) PT Subur Abadi Plantations, Mulyana. Anak-anak diperkenalkan pada pentingnya penggunaan helm dan sabuk pengaman, serta diajak mempraktikkan cara naik kendaraan dengan tertib dan duduk dengan aman.

    Selain itu, mereka juga diingatkan untuk peduli terhadap keselamatan orang tua dengan mengingatkan penggunaan alat pelindung diri saat bekerja.

    Sementara itu, materi pengenalan dan penanganan api disampaikan oleh Asrul. Anak-anak diberikan pemahaman dasar mengenai manfaat dan bahaya api, serta langkah awal yang harus dilakukan apabila melihat api besar, yakni segera melapor kepada orang dewasa guna mencegah risiko kebakaran.

    Melalui kegiatan ini, PT Subur Abadi Plantations berharap nilai-nilai hidup sehat dan perilaku keselamatan dapat tertanam sejak dini.

    Dengan bekal pengetahuan yang diberikan, anak-anak diharapkan mampu menjadi agen perubahan kecil di lingkungan keluarga dan masyarakat, sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam membangun generasi muda yang sehat, aman, dan berkarakter. (*)

  • Ramainya Pantai Jepu-Jepu Dongkrak Hunian Vila dan Usaha Lokal

    Ramainya Pantai Jepu-Jepu Dongkrak Hunian Vila dan Usaha Lokal

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Lonjakan kunjungan wisatawan ke objek wisata Pantai Jepu-Jepu, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat sekitar, terutama pada momen libur Tahun Baru 2026.

    Sejak pagi hingga siang hari, arus wisatawan terus berdatangan ke pantai yang dikenal dengan panorama lautnya yang masih alami tersebut. Kepadatan pengunjung terlihat di sejumlah titik, mulai dari bibir pantai hingga area pondok-pondok istirahat yang tersedia.

    Mayoritas pengunjung datang bersama keluarga dan rombongan kecil untuk menghabiskan waktu liburan. Cuaca cerah dengan angin laut yang sejuk turut mendukung meningkatnya aktivitas wisata di kawasan Pantai Jepu-Jepu.

    Tidak hanya kunjungan harian yang meningkat, tingkat hunian vila di sekitar pantai juga mengalami lonjakan signifikan. Sejumlah wisatawan memilih menginap untuk menikmati suasana pantai lebih lama, terutama saat momentum hari raya dan pergantian tahun.

    Salah seorang pengunjung asal Sangatta, Yuni, mengaku sengaja datang ke Pantai Jepu-Jepu untuk melepas penat bersama temannya. Ia menilai pantai ini masih terjaga kealamiannya dan cocok sebagai tempat beristirahat dari rutinitas.

    “Tempatnya masih alami dan udaranya segar, cocok untuk refreshing, apalagi ini libur tahun baru,” ujarnya saat ditemui, Kamis (1/1/2026).

    Menurut Yuni, pengelolaan wisata perlu terus ditingkatkan tanpa menghilangkan keasrian lingkungan. Ia berharap fasilitas pendukung dapat ditambah seiring meningkatnya jumlah wisatawan.

    Sementara itu, pengunjung lainnya, Andi, mengatakan Pantai Jepu-Jepu menjadi pilihan wisata keluarga karena kondisi pantainya yang relatif bersih dan nyaman untuk anak-anak.

    “Pantainya tidak terlalu ramai dan anak-anak bisa bermain dengan aman. Akses jalannya juga cukup mudah,” tuturnya.

    Dari sisi pengelola, peningkatan kunjungan tersebut berdampak langsung pada tingkat hunian vila. Pengelola vila di kawasan Pantai Jepu-Jepu, Yunan Firdaus Haqqy, menyebut seluruh vila terisi penuh selama libur hari raya dan pergantian tahun.

    “Sejak kemarin sore sampai hari ini, seluruh vila terisi. Kebanyakan tamu menginap satu sampai dua malam, dan mayoritas berasal dari Sangatta dan sekitarnya,” katanya.

    Yunan menambahkan, ramainya wisatawan turut menggerakkan roda perekonomian warga sekitar. Pedagang makanan dan minuman, penyedia jasa sewa perlengkapan pantai, hingga pelaku UMKM merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas wisata.

    “Kunjungan seperti ini sangat membantu ekonomi masyarakat. Kami berharap ke depan bisa terus berlanjut,” ujarnya.

    Selain mendorong ekonomi lokal, pengelola wisata bersama masyarakat setempat juga meningkatkan pengawasan di area pantai untuk menjaga keamanan pengunjung serta kebersihan lingkungan. Pengunjung diimbau untuk tetap menjaga ketertiban dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.

    Pantai Jepu-Jepu hingga kini masih menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kecamatan Kaliorang yang diharapkan dapat terus berkembang sebagai tujuan wisata keluarga yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. 

  • Karangan Dilanda Banjir, Warga Diminta Waspadai Buaya di Area Tergenang

    Karangan Dilanda Banjir, Warga Diminta Waspadai Buaya di Area Tergenang

    www.ads.pojokdigital.com/,KUTIM – Intensitas hujan tinggi dalam sepekan terakhir menyebabkan banjir kembali melanda Kecamatan Karangan, Kutai Timur (Kutim), Minggu (7/12/2025). Tiga desa terdampak, yakni Karangan Dalam, Karangan Ilir, dan Karangan Seberang.

    Selain merendam permukiman warga, banjir ini juga meningkatkan potensi bahaya serangan satwa liar, terutama buaya yang diketahui hidup di aliran sungai sekitar.

    Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, tinggi air di Karangan Dalam mencapai paha hingga hampir pinggang orang dewasa. Kondisi itu membuat sejumlah warga harus dievakuasi ke lokasi lebih aman.

    “Kondisi air di Karangan Dalam terus naik dan sudah ada warga yang dievakuasi. Namun jumlah pastinya masih menunggu laporan resmi dari desa,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim.

    Sementara itu, di Karangan Ilir, debit air terpantau stabil dan belum ada warga yang harus mengungsi. Untuk Karangan Seberang, BPBD masih menunggu perkembangan situasi dari perangkat desa.

    Naim menjelaskan, banjir ini dipicu curah hujan tinggi disertai kondisi sungai yang sedang pasang. Kawasan permukiman yang berada dekat bantaran sungai turut memperparah dampak luapan air.

    “Dalam beberapa hari terakhir hujan cukup sering dan deras. Sungai juga sedang pasang sehingga air cepat meluap ke permukiman,” ucapnya.

    Seiring meningkatnya debit air, BPBD mengeluarkan peringatan khusus kepada warga agar tidak beraktivitas atau membiarkan anak-anak bermain di area banjir. Peringatan ini diberikan karena wilayah Kutim, termasuk Karangan, merupakan habitat buaya sungai.

    “Kami mengimbau warga untuk lebih waspada karena Kutim dikenal sebagai daerah habitat buaya. Anak-anak khususnya jangan dibiarkan bermain di area tergenang,” tegas Naim.

    BPBD juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau potensi keberadaan buaya di area banjir guna mencegah hal-hal yang membahayakan keselamatan warga.

    Untuk mendukung penanganan, BPBD telah menyiagakan perahu dan perlengkapan evakuasi di sejumlah desa. Pemantauan dilakukan 24 jam terhadap perkembangan situasi di lokasi terdampak.

    “Jika dalam 1 x 24 jam air terus naik dan tidak ada tanda-tanda penurunan, tim BPBD akan turun langsung membawa peralatan tambahan,” tutupnya.