KUTAI TIMUR – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur, Aidil Fitri, menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur yang terjadi di Kecamatan Telen. Ia menilai, kemajuan fisik di wilayah tersebut masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kecamatan tetangga di Daerah Pemilihan (Dapil) IV, seperti Muara Wahau dan Kongbeng.
Menurut Aidil, lambatnya pembangunan di Telen utamanya disebabkan oleh tantangan geografis yang cukup berat. Wilayah kecamatan ini terbelah oleh dua sungai besar, mengakibatkan delapan desa di dalamnya terpisah satu sama lain.
“Pembangunan infrastruktur Telen tertinggal jauh dibanding Muara Wahau dan Kongbeng karena faktor geografis. Telen dilintasi dua sungai, sehingga delapan desa di sana terpisah-pisah,” ujar Aidil, Minggu (23/11/2025).
Oleh karena itu, ia menekankan urgensi penyelesaian dua jembatan vital, yakni Jembatan Telen dan rencana pembangunan Jembatan Muara Halog. Keberadaan jembatan ini dinilai krusial untuk membuka isolasi wilayah serta menyatukan konektivitas antardesa.
Selain akses utama, Aidil juga prihatin dengan kondisi jalan lingkungan. Ia mengungkapkan fakta ironis di lapangan: meski bangunan sekolah fisik sudah cukup memadai, akses jalan menuju fasilitas pendidikan tersebut masih berupa tanah. Kondisi ini sangat menyulitkan siswa, terutama saat musim hujan.
“Masalahnya ada pada jalan menuju sekolah yang masih banyak berupa tanah. Saat hujan, anak-anak terpaksa harus melepas sepatu karena jalan rusak,” jelasnya.
Legislator ini berkomitmen untuk terus mengawal anggaran demi peningkatan infrastruktur jalan di Telen agar aktivitas warga dan pendidikan anak-anak tidak lagi terhambat. (Adv/DPRD)
